Educational Paradigm of Minangkabau: “Alam Takambang Jadi Guru”

Gambar

Educational Paradigm of Minangkabau:

Alam Takambang Jadi Guru

 “Ketika Neil Amstrong mendarat di bulan, dia menemukan sebuah restoran Padang yang sudah lebih dulu ada di sana,” demikian sebuah kelakar yang dikutip Tsuyoshi Kato (2005: 6) tentang kehebatan orang Minangkabau merantau. Kato (2005: xiii)  mengajukan tiga ciri sosial Minangkabau yang diketahui umum, yaitu: ketaatan kepada agama Islam, sistem kekerabatan matrilineal, dan kebiasaan merantau.

Sebenarnya, ketaatan terhadap agama Islam dan sistem matrilineal adalah sebuah paradoks, karena terdapat dua sistem yang “bertentangan” dalam kehidupan orang Minangkabau, Islam yang menerapkan patrilineal dengan adat yang menganut sistem matrilineal. Banyak ilmuwan meragukan keberlanjutan adat dan masyarakat Minangkabau, dan meramalkan bahwa masyarakat Minangkabau akan mengalami kepunahan karena menganut dua hal yang bertentangan.

Semangat merantau juga diperkirakan melunturkan kecintaan terhadap adat, dan para perantau akan meninggalkan adat Minangkabau. Sehingga diramalkan suatu saat adat Minangkabau tidak lagi dipakai oleh para perantau, baik yang berada di rantau, atau oleh mereka yang kembali dari rantau, karena mengalami dan menemui budaya baru di rantau.

Tetapi semua ramalan tersebut sampai saat ini (tahun 2013) belum menunjukkan bukti yang signifikan. Masyarakat Minangkabau dengan tiga ciri sosial tersebut masih bertahan dan eksis, sementara masyarakat Minangkabau dengan adatnya tetap bertahan melewati berbagai perubahan dunia di sekelilingnya.

Minangkabau merupakan etnis matrilineal terbesar yang masih bertahan di zaman modern yang didominasi sistem kekerabatan patrilineal. Etnis lain yang juga menganut sistem matrilineal umumnya sudah meredup dan dapat dinyatakan menuju kepunahan. Sebaliknya, Minangkabau dengan adatnya tetap eksis, bahkan secara relatif makin berkembang dalam beberapa segi.  Perkembangan politik di Indonesia memberi tambahan eksistensi Minangkabau dengan banyaknya tokoh-tokoh masyarakat yang diangkat atau dibesarkan oleh adat Minangkabau dengan berbagai atributnya, seperti pemberian gelar adat atau gelar kebesaran kerajaan. Meskipun tidak seluruh lapisan mendukung kegiatan-kegiatan pemberian gelar tersebut, namun secara timbal balik, kegiatan pemberian gelar dan semacamnya, meningkatkan citra si tokoh, sekaligus, meningkatkan citra eksistensi adat dan masyarakat Minangkabau.

Eksistensi adat dan budaya Minangkabau tidak hanya bertahan dan berkembang di tempat asalnya, Sumatera Barat. Eksistensi tersebut tidak kalah semarak perkembangannya di “rantau”, di wilayah lain yang menjadi tempat orang Minangkabau melakukan perantauan, di seluruh dunia. Seperti kutipan Kato di awal tulisan ini. Siapapun dapat menemukan restoran Padang di berbagai kota besar di seluruh dunia. Di restoran Padang, antara lain, berbagai pernik adat Minangkabau bertahan dan berkembang.

Keberlanjutan dan perkembangan adat Minangkabau mungkin tidak sepenuhnya dianggap positif, terutama oleh para pemerhati dan pencinta adat yang idealis, atau mereka yang menginginkan adat yang “murni” sesuai yang diwariskan nenek moyang. Mungkin sekali sudah banyak perkembangan yang tidak lagi seperti yang ideal dahulunya. Atau mungkin juga nilai-nilai adat yang berkembang tidak lagi yang murni, yang ideal. Mungkin terdapat sebagian kritikus dan pemerhati yang mencemaskan arah perkembangan tersebut.

Pada dasarnya, adat dan budaya Minangkabau masih ada dan masih berkembang, Apapun kecemasan dan anggapan terhadap eksistensi dan perkembangan adat Minangkabau, positif maupun negatif. Orang Minangkabau dengan adatnya, secara relatif, masih berlanjut di zaman ini. Minangkabau masih eksis dan berlanjut secara kultural, di tingkat pelaku individual, komunal, maupun secara global.

Kebertahanan adat Minangkabau yang mengandung paradoks tersebut menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban. Apakah faktor atau ornament internal budaya yang berperan mempertahankan dan melanjutkan eksistensi adat dan budaya Minangkabau? Adakah lembaga sosial atau lembaga adat atau budaya yang masih dipertahankan oleh masyarakat, yang berperan mewariskan nilai-nilai adat dari generasi ke generasi masyarakat Minangkabau?

2. Tambo sebagai Media Pewarisan Nilai

Djamaris menyatakan bahwa Tambo-lah yang berperan dalam mempertahankan nilai-nilai adat tersebut. Dalam buku Tambo Minangkabau, Djamaris (1991 :76 dan 204) menghubungkan tambo dengan pendapat Danandjaja:

“Sesuai dengan tema Tambo Minangkabau, fungsi cerita Tambo Minangkabau adalah mengukuhkan kedudukan adat di samping agama Islam, mengukuhkan aturan adat mengenai pewarisan harta pusaka kepada kemenakan, dan mengukuhkan kedudukan penghulu sebagai pemimpin dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan dua fungsi cerita rakyat sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, dan sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota masyarakat (Danandjaja, 1984 : 19).

Menurut Bascom, dalam Danandjaja (1984 :19) fungsi cerita rakyat ada empat, yaitu: sebagai alat proyeksi, yakni sebagai alat pencerminan angan-angan suatu golongan masyarakat; sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; sebagai alat pendidikan; dan sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota masyarakat;

Fungsi folklor menurut Bascom (1965b: 280) tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kebudayaan secara luas, dan juga dengan konteksnya. Folklor milik seseorang dapat dimengerti sepenuhnya hanya melalui pengetahuan yang mendalam dari kebudayaan orang yang memilikinya (Bascom, 1965a: 285). Pemilik folklor tidak menganggap penting asal-usul atau sumber folklornya, melainkan fungsi dari folklor itu lebih menarik mereka. Fungsi folklor menurut Dundes, bukan hanya empat, melainkan lebih dari itu. Di antara sekian banyak fungsi folklor, kata Dundes (1965a: 277), ada fungsi yang bersifat umum, yakni sebagai: (1) alat pendidikan, (2) peningkat perasaan solidaritas kelompok, (3) pengunggul dan pencela orang lain, (4) pelipur lara, dan (5) kritik masyarakat.

Dundes (1965: 277) menyatakan beberapa fungsi umum folklor, yaitu: (1) membantu pendidikan anak muda (aiding in the education of the young), (2) meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok (promoting a group’s feeling of solidarity), memberi sanksi sosial agar orang berperilaku baik atau memberi hukuman (providing socially sanctioned way is for individuals to act superior to or to cencure other individuals) (4) sebagai sarana kritik sosial (serving as a vehicle for social protest), (5) memberikan suatu pelarian yang menyenangkan dari kenyataan (offering an enjoyable escape from reality), dan (6) mengubah pekerjaan yang membosankan menjadi permainan (converting dull work into play).

Bagaimana paradigma pendidikan Minangkabau? Atau, bagaimana masyarakat Minangkabau mewariskan nilai2 adatnya?

3. Apa sesungguhnya Tambo Minangkabau?

3.1  Tambo Bukan yang Tertulis

Selama ini, sebagian besar masyarakat pemerhati Minangkabau menganggap Tambo Minangkabau (selanjutnya TM) adalah buku-buku yang ditulis dengan judul “Tambo Minangkabau”, atau buku-buku lainnya yang memakai nama “tambo”. Padahal, TM bukan hanya yang ditulis tersebut. Ada empat macam TM, yaitu: Tambo yang Terserak, Tambo yang Tersurat, Tambo yang Tersirat, Tambo yang Tersuruk.

Tambo jenis pertama adalah TM menjadi bagian terpenting yang memberi inspirasi filosofis dalam prosesi adat apapun. TM menjadi ungkapan-ungkapan penting dalam pasambahan, panitahan, pidato adat, basurah adat, kato bajawek-gayuang basambuik,  dan semua ucapan resmi dalam upacara adat Minangkabau.  Ungkapan dan ucapan resmi prosesi adat dan komunikasi lisan itu masih berlangsung masif dalam masyarakat sampai saat ini. Bahkan isi TM menjadi ungkapan sehari-hari dengan nilai tinggi dan terhormat bagi pemakai dan pendengarnya. Tambo lisan yang masih tetap diucapkan dan menyebar di tengah masyarakat ini disebut “Tambo nan Taserak”,  Tambo yang Terserak, tambo yang tersebar di mana-mana. TM lisan inilah yang menyebar dan diwariskan sejak dahulu kala, diwariskan sebagai sastra lisan yang terus-menerus dipakai sampai saat sekarang. Inilah tambo yang sesungguhnya. Inilah TM yang menjadi sumber bagi tambo jenis kedua, ketiga, dan keempat.

Tambo jenis kedua, Tambo nan Tasurek, Tambo yang Tertulis, hanyalah jenis tambo generasi baru, hasil karya para penulis berdasarkan pengetahuan mereka mengenai tambo jenis pertama. Tyuyoshi Kato (2006) dalam buku Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah, halaman 17 menulis: “Tambo, yang pada mulanya disampaikan secara lisan dan kemudian ditulis dalam huruf Arab, merupakan himpunan cerita-cerita tentang asal-usul dan peraturan-peraturan adat (hukum adat).”

Tambo tertulis paling tua diperkirakan muncul pada periode  perang Paderi (1803-1838). Tambo tertulis yang ditemukan sekarang, jauh lebih muda, seperti Di Radjo (ditulis tahun 1919, cetakan yang masih ada 1954), Datoek Toeah (cetakan yang masih ada 1956).

Tambo lisan jauh lebih tua daripada tambo tertulis. Pewarisan tambo lisan lebih masif, dilakukan oleh seluruh pelaku adat Minangkabau dalam seluruh upacara adat, bahkan dalam keseharian orang Minangkabau.  Setiap orang Minangkabau sangat biasa menggunakan pepatah/petitih adat dalam ucapan dan komunikasi mereka setiap hari. Ada kebanggaan dan gengsi jika seseorang dapat mengutip satu-dua pepatah/petitih atau ungkapan petuah adat, dalam komunikasi mereka sehari-hari.

Jadi, TM tertulis bukanlah tambo yang sesungguhnya, karena tambo tertulis hanyalah satu jenis tambo hasil penulisan tambo lisan dari pemerhati atau pengguna tambo lisan. Seperti yang  selalu dinyatakan para penulis tambo, juga penyampai tambo lisan:

Kaik bakaik rotan sago// Alah takaik di aka baha// Tabang ka langik tabarito// tibo di bumi jadi kaba

Banda urang kami bandakan// Banda urang Koto Tuo// Kaba urang kami kabakan// Duto urang kami ndak sato

Ini adalah pola/bentuk pertanggungjawaban seperti catatan kaki atau kutipan/rujukan dalam karya ilmiah. Penulis atau penyampai tambo selalu memberi tahu bahwa mereka bukan pengarang tambo tersebut. Mereka hanyalah penyampai, penyambung lidah dari niniak muyang yang meninggalkan/mewariskan tambo.

Tambo sebenarnya tidak (yang) tertulis. Tambo generasi pertama adalah sastra lisan, yang disebut “Tambo nan taserak di galanggang.” Tambo yang tertulis, “Tambo nan tasurek” adalah jenis tambo generasi terakhir, ketika masyarakat sudah mengenal aksara/huruf. Ada beberapa aksara yang pernah bersinggungan dengan masyarakat Minangkabau.  Yang paling intens adalah:

a. aksara/huruf Pallawa bahasa Melayu Kuno; 600-an Masehi,

b. aksara Arab/Melayu, bahasa Melayu/Minangkabau; 1400-1900-an M,

c. aksara Latin, bahasa Melayu/Minangkabau, 1900-an M s/d sekarang.

Kalau ada anggapan bahwa yang paling berpengaruh terhadap ingatan masyarakat Minangkabau adalah Tambo nan tasurek, maka itu sebuah kekeliruan. Tambo nan tasurek hanya bagian kecil dari ingatan masyarakat Minangkabau, dan hanya sebagian kecil masyarakat Minangkabau yang pernah menyentuhnya. Para penghulu sebagian besar masih buta huruf sampai pertengahan abad ke-20. Tapi isi kepala mereka hampir semua berisi Tambo.

Tambo yang paling banyak dan terus menerus diwariskan adalah nan taserak di galanggang, karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat bahasa lisan sepanjang sejarah.

3.2. Tambo Bukan Sejarah

Sebagian besar pengritik TM, seperti Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP), menganggap TM berisikan kisah atau riwayat niniak muyang orang Minangkabau. Para pengritik umumnya memandang TM adalah “catatan sejarah” Minangkabau. Sebagian masyarakat Minangkabau juga mengartikan TM sebagai sejarah Minangkabau.

Sesungguhnya isi atau muatan TM bukanlah sejarah. Kalaupun ada bagian TM berisi kaba atau kisah niniak muyang, itu belum dapat dinyatakan sebagai sejarah, sebelum memahami apa sebenarnya isi dan maksud niniak muyang meninggalkan kisah tersebut. Lebih dari itu, bagian TM yang berupa kisah atau kaba tersebut hanyalah bagian kecil dari tambo, baik tambo yang tertulis maupun tambo lisan.

Bagian tambo yang populer memang bagian kisah yang sering dikritik sebagai “tidak logis”, tidak masuk akal, khayal dan sebagainya. Seperti ditulis MOP dalam buku Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833.

“Brothers from Minang sangat parah handicapped, karena kepertjajaan mereka akan mythos2 tanpa angka2 tahunan. Mythos Iskandar Zulkarnain Dynasty, Mythos Menang Kerbau, Mythos Bundo Kanduang, Tambo Minangkabau, dlsb., semuanya 100% ditelan oleh Brothers from Minang. Tanpa mereka sanggup selecting-out 2% facta2 sejarah dan kicking-out 98% mythologic ornamentations dari mythos2 itu. Tanpa mereka sedikit pun usaha, mentjarikan angka2 tahunan untuk menghentikan big confusions” (679).

Ketika TM dianggap sejarah, maka cara pandang seperti MOP tidak dapat disalahkan. Perlu dikaji ulang seluruh isi tambo yang dituduh MOP sebagai sejarah yang irrasional. Tiga kaba yang kontroversial, yang paling lekat dalam ingatan masyarakat adalah “Kaba Alun Baralun,” “Kisah Adu Kabau”, dan “Kaba Cindua Mato”. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: apakah ketiga kaba kontroversial tersebut catatan sejarah? Bagaimana sesungguhnya posisi dan fungsi kaba tersebut dalam TM?

Menjawab pertanyaan pertama perlu klarifikasi tentang isi/muatan dan maksud/tujuan tambo. Kaba dalam TM bukan dimaksdkan sebagai sejarah, tapi jejak kearifan yang ditinggalkan niniak muyang tentang masa lalu. Di dalam kaba tersebut justru ada kearifan untuk menghapus/ menyembunyikan/ menutupi peristiwa sejarah yang kelam, yang tidak perlu diceritakan secara terbuka. TM bukanlah sejarah, karena justru mengandung maksud menghapus/ menyembunyikan/ menutupi peristiwa sejarah.

Pertanyaan kedua harus menjadi perhatian, karena telah terjadi reduksi pemahaman tentang TM. Selama ini TM dipahami atau dianggap hanyalah tiga kaba kontroversial tersebut. Padahal, ketiga kaba tersebut hanyalah bagian kecil dari TM.

Buku Tambo Alam Minangkabau, karya Hadji Datoek Toeah (1957) berisi 55 nomor (bab) 268 halaman. Dari 55 bab tersebut terdapat 3 bab yang memuat ketiga kaba kontroversial tersebut, yaitu: bab (1) Mula-mula manusia berkembang; bab (19) Minang Kabau; bab (35) Bundo Kandung dan anaknya.  Selain tiga bab tersebut, sebanyak 52 bab berbicara tentang aturan-aturan, undang-undang, pedoman bagi penghulu, pemimpin, kehidupan bermasyarakat, dan semua ketentuan-ketentuan adat Minangkabau.

Kitab Tjoerai Paparan Adat Limbago Alam Minangkabau, karya Datoe’ Sanggoeno Di Radjo berisi 39 bagian, 161 pasal, 229 halaman. Hanya pasal (2) dan (3) yang memuat kaba Alun Baralun, ditambah 5 pasal berikutnya tentang pendirian nagari-nagari pertama. Selebihnya, sebanyak  150-an  pasal berisi aturan-aturan, undang-undang, pedoman bagi penghulu, pemimpin, kehidupan bermasyarakat, dan semua ketentuan-ketentuan adat Minangkabau.

Dari dua contoh buku tandon yang menjadi rujukan para pengritik TM terlihat nyata, bahwa TM tertulis bukan buku sejarah, tidak dimaksudkan sebagai catatan sejarah, karena lebih 90 % isinya mengenai aturan-aturan, undang-undang, pedoman kehidupan, ketentuan-ketentuan adat Minangkabau. Sebagaimana MOP menyatakan:  “…mythos2 tanpa angka2 tahunan…”,  ketiga kaba dalam TM tidak memuat angka-angka tahunan, (sangat mungkin) tidak memuat tokoh sejarah riil, (sangat mungkin) tidak terikat konteks peristiwa riil. Mengapa? Karena ketiga kaba tersebut bukan sejarah!

Ketiga kaba kontroversial tersebut bukan sejarah, dan hanya bagian kecil dalam TM. Bagian besar TM justru memuat aturan-aturan, undang-undang, pedoman kehidupan, ketentuan-ketentuan adat Minangkabau. Maka tidak dapat tidak, TM bukan sejarah!

4.  Tambo Minangkabau Tereduksi Berulangkali

4.1. Reduksi TM oleh Para Penulis Awal

TM yang dipakai bahan rujukan sebagian besar peneliti adalah karya generasi penulis awal yang masih dapat ditemui. Secara umum TM yang muncul di awal abad ke-20 tersebut tampil “utuh”. Para penulis masih menampilkan seluruh tuturan TM secara menyeluruh, holistik, komprehensif. Dalam TM generasi pertama tersebut ditemui semua unsur nyaris lengkap. Isi TM memuat kaba, pedoman hidup bernagari, pedoman bagi penghulu, UUM, pedoman berkata-kata, dan semua pedoman hidup orang Minangkabau.

Ada reduksi pada TM generasi tersebut ketika TM sebagai sastra lisan dialihbahasakan menjadi bahasa tulis. Rasa bahasa lisan menjadi berubah dan sebagian menjadi hilang.

Penulis TM generasi awal masih meninggalkan jejak ninik muyang relatif utuh. Walaupun ditulis dalam bahasa Melayu Tinggi (sebelum menjadi Bahasa Indonesia), TM generasi awal tetap berusaha menampilkan TM secara utuh: Kaba, pedoman-pedoman adat dan kehidupan, dan UUM. TM tertulis generasi awal ini antara lain:

  1. Ibrahim Datoe’ Sanggoeno Di Radjo, 1919, Tjoeraian Adat Minangkabau,
  2. Ibrahim Datoe’ Sanggoeno Di Radjo, 1919, Tjoerai Paparan Adat Lembaga Alam Minangkabau,
  3. Ibrahim Datoe’ Sanggoeno Di Radjo Dahler Abdul Madjid Sm. Hk, Radjo Mangkuto (Datuk.), 1979, Mustika Adat Alam Minangkabau, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah;
  4. A Adnan Sutan Mangkuto, 1960, Masjarakat, Adat dan Lembaga Minangkabau;
  5. Hadji Datoeak Toeah, 1954, Tambo Alam Minangkabau.
  6. Djamaloe’ddin gelar Soetan Maharadjo Lelo, 1956, Tambo Adat Minangkabau,
  7. Bahar Datuk Nagari Basa, 1966, Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau, Payakumbuh: Eleonora.

 

4.2. Reduksi TM oleh Para Peneliti

Para peneliti selalu memisahkan bagian kaba dengan bagian terbesar TM, Undang-Undang Minangkabau (UUM). Djamaris (2001) misalnya, membagi pembahasan tentang sastra Minangkabau dalam 3 kelompok besar: puisi, prosa, drama tradisional. Djamaris memasukkan Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau ke dalam kelompok puisi, butir ke-7 setelah mantra, pantun, talibun, pepatah-petitih, teka-teki, dan syair. Prosa dibagi Djamaris menjadi empat: curito, kaba, TM dan UUM. TM dimasukkan Djamaris ke dalam butir dari prosa, pada butir 2.3. Secara ringkas terlihat dalam bagan berikut.

Berikut ini bagan posisi TM dalam buku Pengantar Sastra Minangkabau:

  • 1. Puisi
  • 1.1. Mantra
  • 1.2. Pantun
  • 1.3. Talibun
  • 1.4. Pepatah=petitih
  • 1.7. Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau
  • 2. Prosa
  • 2.1. Curito
  • 2.2. Kaba
  • 2.2.1. Kaba Lama
  • 2.2.1.1. Kaba Cindua Mato
  • 2.2.1.2. Kaba si Untuang Sudah
  • 2.3. Tambo Minangkabau
  • 2.4. Undang-undang Minangkabau (UUM).

Djamaris memisahkan Kaba Cindua Mato dari TM, memasukkannya sebagai salah satu contoh Kaba Lama, sama dengan Kaba si Untuang Sudah, Kaba Magek Manandin, Kaba Malin Deman dan Puti Bungsu, Kaba Rambun Pamenan, dan Kaba si Umbuik Mudo. Sebagai kaba, hal tersebut dapat dipahami. Tapi, Kaba Cindua Mato adalah kaba yang selalu ada dan menjadi bagian TM. Kaba yang lain di atas sama sekali tidak terkait dengan TM.

Kaba Alun Baralun dan Kisah Adu Kabau, tidak dimasukkan sebagai bagian Kaba Lama, tapi dimasukkan ke dalam bagian isi cerita TM. Dengan kata lain, menurut pandangan Djamaris, TM adalah Kaba Alun Baralun dan Kisah Adu Kabau, tidak termasuk Kaba Cindua Mato, dan tidak termasuk UUM yang senantiasa menjadi bagian naskah TM manapun.

Lebih jauh, TM dipisahkan dengan jenis-jenis puisi lainnya: mantra, pantun, talibun, pepatah-petitih, teka-teki, dan syair. Pemisahan ini menyatakan bahwa TM berbeda dengan dan tidak memuat semua jenis puisi tersebut. Padahal, setiap naskah tambo, naskah UUM selalu hadir dalam bentuk-bentuk tersebut: pantun, pepatah-petitih, bahkan syair, dan talibun.

Pemisahan TM dari Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau, membuat pemahaman bahwa TM tidak berkaitan dan berbeda dengan Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau. Di dunia nyata Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau selalu menggunakan TM sebagai isi /muatan utamanya.

Dari pembagian di atas terlihat bahwa TM telah mengalami reduksi luar biasa, tercerai-berai dan tidak lagi dipahami secara utuh sebagaimana adanya. TM yang ditulis berdasarkan lisan pelaku adat, telah mengalami reduksi karena peralihan bahasa lisan menjadi bahasa tulis. Kajian dan peneliti sastra Minangkabau memperlakukan TM sebagai serangkaian karya yang terpecah-pecah: ada puisi, ada kaba, ada undang-undang. Reduksi TM makin parah ketika sebagian kaba dianggap sebagai keseluruhan TM, dengan mengeluarkan kaba lainnya, dan memisahkan bagian besar terpenting UUM sebagai jenis lain yang bukan TM. TM dalam kajian sastra dipecah-pecah dan terpisah dari isinya: pantun, pepatah-petitih, Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau, Kaba dan UUM sebagai bagian terpenting TM. TM tereduksi dan diartikan hanya sebagai Kaba Alun Baralun.

Tsuyoshi Kato (2006) dalam buku Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah, halaman 17-18 menulis:

“…”tambo” (secara harfiah berarti cerita-cerita dari masa lalu atau historiografi tradisional). Tambo, yang pada mulanya disampaikan secara lisan dan kemudian ditulis dalam huruf arab, merupakan himpunan cerita-cerita tentang asal-usul dan peraturan-peraturan adat (hukum adat). Tambo menguraikan tentang pembentukan Alam Minangkabau, menentukan batas-batasnya, dan merinci hubungan antara darek dan rantau. Selanjutnya tambo menerangkan lahirnya adat dan menguraikan aturan-aturan hukum mengenai kemasyarakatan, hubungan antarindividu dan perilaku yang wajar.

Ada banyak versi tambo yang pada umumnya saling menyokong antara satu dan yang lainnya. Sesuatu yang menjadi ciri khasnya, tambo dimulai dengan kisah penciptaan Alam Minangkabau:…”

Dalam tulisan ini Kato berpikir sangat holistik, komprehensif. Tambo dipandang Kato sebagai: “…  (karya) lisan dan kemudian ditulis…,  … himpunan cerita-cerita tentang asal-usul dan peraturan-peraturan adat (hukum adat)…, tambo menerangkan lahirnya adat dan menguraikan aturan-aturan hukum mengenai kemasyarakatan, hubungan antarindividu dan perilaku yang wajar.”

Kato (2006: 26) membandingkan cara pandang adat Melayu dengan tambo:

“Ada ungkapan Melayu yang mengatakan “Adat dipegang oleh raja, dan rajalah yang beradat. Ada raja, adat berdiri, hilang raja, adat pun mati”. Ungkapan seperti ini tidak dikenal oleh orang Minangkabau. Yang Dipertuan bukan Alam Minangkabau, tetapi hanya sebagian darinya. Apa saja yang ditentukannya bukanlah kerajaan, melainkan Alam Minangkabau. Sejarah Minangkabau bukan silsilah dari urutan raja-raja tetapi tambo, yang menghimpun cerita-cerita tentang permulaan Alam dan perkembangannya, aturan-aturan dan hukum-hukum untuk perilaku yang wajar, dan perbatasan untuk Alam itu.”

Terdapat sedikit reduksi Tambo Minangkabau dalam buku Kato. Awalnya Kato memperlakukan kaba sebagai bagian integral dari tambo, kemudian dia seolah-olah meninggalkan kaba, memperlakukannya sebagai sebuah historiografi yang terlepas dari peraturan-peraturan adat (hukum adat).

Para peneliti mancanegara yang tertarik terhadap Minangkabau, sebagaimana Kato, umumnya tidak mengutak-atik Tambo Minangkabau. Mereka hanya mengutip bagian-bagian Tambo Minangkabau, atau menganalisis topik/tema tertentu dari Tambo Minangkabau minat dan sesuai perhatian mereka.

  1. Tsuyoshi Kato, 1977, Social Change in a Centrifugal Society: The Minangkabau or West Sumatra (disertasi doktor, University Cornell).
  2. Elizabeth E Graves, 1981, The Minangkabau Response to Dutch Colonial Rule Nineteenth Century, Itacha, NY: Cornell Southeast Asia Program Publication. (diterjemahkan: Novi Andri, dkk, 2007, Asal Usul Elite Minangkabau Modern: Respon Terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia)
  3. Joel S Kahn, 1993, Constituting the Minangkabau: Peasan, culture, and modernity in colonial Indonesia.
  4. Joel S Kahn, 2007, Minangkabau Social Formation: Indonesian Peasants and the World-Economy, London: Cambridge University Press;
  5. Lyn L Thomas, 1985, Change and Contonuity in Minangkabau: Local, Regional, and Historical Perspectives on West Sumatra, Ohio: Ohio University Center for International Studies;
  6. Franz von Benda-Beckmann, 1979, Property in social continuity: continuity and change in the maintenance of property relationships through time in Minangkabau, West Sumatra, Leiden: Martinus Nijhoff;
  7. Marcel Vellinga, 2004, Constituting Unity And Difference: Vernacular Architecture In a Minangkabau Village, Jakarta: KITLV Press
  8. Renske Laura Biezeveld, 2002, Between Individualism And Mutual Help: Social Security And Natural Resources In A Minangkabau Village, Delft, the Netherlands: Eburon Publishers Ubbels
  9. Jeffrey Alan Hadler, 2008, Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism, USA: Cornell University Press;
  10. Jeffrey Alan Hadler, 2002, Places Like Home: Islam, Matriliny, and the History of Family in Minangkabau,UMI.
  11. Evelyn Blackwood, 2000, Webs of Power: Women, Kin, and Community in Sumatran Village, Oxford England: Rowman & Littlefield Publishers, Inc.

Kesebelas buku tersebut, sekedar contoh, merujuk “begitu saja” kepada Tambo Minangkabau, dan menerima Tambo Minangkabau sebagai sejarah Minangkabau, atau merujuk kepada UUM tanpa mempedulikan hubungan UUM dengan TM.
Berikut ini contoh perlakuan peneliti mancanegara terhadap TM.

Kato (1977) sebagaimana dikutip Blackwood(2000 :78):

“Menurut tambo, daerah yang tercakup dalam pengaruh Minangkabau disebut Alam Minangkabau,…”
Blackwood (2000: 73) menulis:

“…an expectation of cooperation and generosity contained in the Minangkabau ideal of mutual assistance (tolong-menolong)—that draws on certain Minangkabau notions of gender. According to Minangkabau folk stories (tambo), sons are expected to go out (merantau)…”

Kato memperbaiki cara pandangnya terhadap TM hampir 30 tahun kemudian. Tahun 2006 Kato (2006: 18) menulis:

“Dunia tambo itu adalah dunia tanpa sejarah, tetapi pada saat yang sama ia sarat dengan makna sejarah. Tambo tidak didasarkan pada titik waktu sejarah tertentu, tetapi merupakan rencana induk dari masyarakat Minangkabau…., rencana induk itu nyatanya tidak merupakan dunia mimpi.”

4.3. Reduksi Tambo Minangkabau oleh Para Penulis Mutakhir

TM masih tetap ditulis oleh para penulis mutakhir, terutama mereka yang sangat rindu kembali “Mambangkik Batang Tarandam,” membangkitkan kembali khasanah adat dan budaya Minangkabau. Terdapat sejumlah penulis mutakhir dengan intens mengumpulkan isi Tambo Minangkabau sedemikian rupa, dalam berbagai tulisan.

Penulis pertama adalah Idrus Hakimy Dt Rajo Penghulu dengan bukunya: Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau (1968, 1973, 1984a, 1994), Buku Pegangan Penghulu di Minangkabau (1978), Pokok-pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau (1984b), Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Adat di Minangkabau (1984c, 1994).

Idrus Hakimy mengumpulkan sangat banyak isi TM, tapi melakukan dua reduksi yang sangat besar: pertama menghapus/menghilangkan kaba sebagai bagian TM; kedua memecah-mecah, memisah-misahkan isi tambo menjadi bagian-bagian pedoman, memisah-misahkan berdasarkan jenis dan bentuk tuturan: pantun, gurindam, petuah, dll.

Buku-buku Idrus Hakimy seolah menyatakan bahwa “pengetahuan adat” terpisah dari “pegangan penghulu”, terpisah dari “pidato alua pasambahan”, dan terpisah dari “kaba”. Dalam buku Rangkaian Mustika Idrus Hakimy melepaskan semua bentuk pantun, gurindam, petuah dll., sebagai sekumpulan kekayaan yang tercerai-berai tanpa kaitan satu sama lain.

Para penulis berikutnya mengikuti pola penulisan Idrus Hakimy, memisahkan sama sekali masing-masing bagian TM menjadi sebuah tulisan lepas yang tidak punya kaitan satu dengan yang lainnya. Perhatikan buku-buku adat Minangkabau sampai tahun 2011 berikut.

  1. M Rasjid Manggis Dt Radjo Panghulu, 1982, Minangkabau Sejarah Ringkas dan Adatnya, Jakarta: Mutiara.
  2. St Mahmoed dan A Manan Rajo Penghulu (1987) mereduksi Tambo Minangkabau dengan membahas hanya bagian kaba, membahas dan mengaitkan kaba dengan bukti-bukti sejarah. Dengan “semangat” kesejarahan dan “semangat” membela Tambo Minangkabau, mereka mereduksi Tambo Minangkabau menjadi hanya kaba.
  3. Amir MS, 1987, Tonggak Tuo Budaya Minang, Jakarta: Karya Indah;
  4. Amir MS, 1997, Adat Minangkabau: Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, Jakarta: Mutiara Sumber Widya;
  5. Amir MS, 2003, Tanya Jawab Adat Minangkabau:Hubungan Mamak Rumah dengan Sumando, Jakarta: Mutiara Sumber Widya;
  6. Amir MS, 2007, Masyarakat Adat Minangkabau Terancam Punah, Jakarta: Mutiara Sumber Widya;
  7. Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, 2000, Bunga Rampai Pengetahuan Adat Minangkabau, Padang: Yayasan Sako Batuah;
  8. Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, 2002, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Padang: LKAAM Sumbar;
  9. Sjafnir Abu Nain, 2006, Sirih Pinang Adat Minangkabau:Pengetahuan Adat Minangkabau Tematis, Padang: Sentra Budaya.
  10. H Ch N Latif, S.H., M.Si., Dt Bandaro, 2002, Etnis dan Adat Minangkabau, Permasalahan dan Hari Depannya, Bandung: Angkasa.
  11. Herwandi (ed.), 2004, Mambangkik Batang Tarandam, Kumpulan Makalah Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau,
  12. H Julius Dt Malako Nan Putiah, 2007, Mambangkik Batang Tarandam, dalam Upaya Melestarikan Adat Minangkabau Menghadapi Modernisasi Kehidupan Bangsa, Bandung: Citra Umbara.
  13. Iskandar Kemal, 2009, Pemerintahan Nagari Minangkabau & Perkembangannya, Tinjauan Tentang Kerapatan Adat, Yogyakarta: Graha Ilmu.
  14. H Musyair Zainuddin, M.S., 2010, Pelestarian Eksistensi Dinamis Adat Minangkabau, Yogyakarta: Ombak.
  15. Dr Chairul Anwar, S.H., Hukum Adat Indonesia, Meninjau Hukum Adat Minangkabau,
  16. Muchsis Muchtar St Bandaro Putiah, 2011, Menelusuri Kembali Warisan Nenek Moyang Kita, Alam Takambang Jadi Guru, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Jakarta: Yayasan Nuansa Bangsa.

Sepuluh tahun terakhir para pencinta Minangkabau berduyun-duyun menulis tentang Minangkabau berdasarkan TM. TM mereka pahami melalui berbagai media, buku, pengalaman hidup, serta melalui penelitian. Sebagian besar mengulang-ulang isi tambo, menafsirkannya dan mengaitkannya dengan berbagai hal, termasuk perkembangan dunia modern.

Para penulis mutakhir umumnya menulis berdasarkan tema atau topik yang mereka susun, kemudian mencari bagian-bagian TM yang menurut mereka relevan dengan tema atau topik yang mereka pilih. TM dijadikan bahan “sandaran filosofis” untuk menjawab tema atau topik yang telah mereka pikirkan. TM diperlakukan sebagai “tempat merujuk” untuk memberi penjelasan: beginilah menurut adat Minangkabau.

Peneliti tingkat dunia seperti Tsoyushi Kato juga melakukan hal yang sama. Kato mengambil TM sebagai rujukan, tanpa berniat untuk memahami TM secara komprehensif holistik, sebagaimana pernyataannya. Kato tidak peduli dengan kontroversi kaba sebagai bagian TM. Kato dengan santai mengutip hampir utuh Kaba Alun Baralun, sejak dari: “Pada mulanya, yang ada hanyalah Cahaya Muhammad (Nur Muhammad), dan….” sampai kisah dua datuk membagi kalarasan Bodi Caniago dan Koto Piliang.”

Tidak ada kritik dari Kato, tapi juga tidak ada pernyataan menerima kaba tersebut sebagai sejarah. Kato (200: 18) hanya menampilkan begitu saja. Kato memberi pengantar dengan sebuah pernyataan yang ambigu, bahwa: “…tambo itu adalah dunia tanpa sejarah. Tambo tidak didasarkan pada titik waktu sejarah tertentu, tetapi merupakan rencana induk dari masyarakat Minangkabau…., rencana induk itu nyatanya tidak merupakan dunia mimpi.”

Belum ada pernyataan menerima atau menolak keberadaan kaba sebagai bagian TM.

5. Mamahami Esensi dan Bagian Penting TM

Para sejarawan memandang Tambo Minangkabau sebagai 2% sejarah 98% mitologi. Tidak kurang sejarawan Minangkabau sendiri menyatakan demikian. Mansoer (1970) dalam buku Sedjarah Minangkabau yang menulis demikian.

Telah dibahas bahwa Tambo Minangkabau bukan sejarah. Bagian kaba yang dipandang sebagai “sumber” bagi sejarawan hanyalah bagian kecil dari Tambo Minangkabau. Tambo Minangkabau yang ditulis tidak dimaksudkan sebagai catatan sejarah, seperti ditulis Di Radjo (1919: 223-227):

“Bagaimana asal mulanja saja dapat mengoesahakan boekoe ‘adat kita ini,…

 …sedjak kira-kira 7 tahoen dahoeloe dari mengarangkan kisah ini ….
semangkin hari semangkin lekatlah kasih sajang hati saja kepada adat lembaga kita jang amat baik itoe di ‘Alam Menangkabau ini.

…sebab radjin bergoeroe bertanja, tentangan seloek beloek ‘adat lembaga kita itoe, saja poen amat soeka poela membatja dan menjelidiki boenjinja tambo-tambo ‘adat Menangkabau, dan Tjoerai Paparan dari orang toea-toea, serta boenji dan maksoednja pepatah ‘adat,…” 

Penulis tambo tidak menganggap Tambo Minangkabau sebagai sejarah an sich. Dorongan terbesar, tujuan utama mereka adalah mengoesahakan boekoe ‘adat , merekam seloek beloek ‘adat, bukan kaba, bukan kisah. Yang menjadi bagian terpenting bagi penulis adalah mengoesahakan boekoe ‘adat, mewariskan seloek beloek ‘adat kepada generasi penerus. Kalaupun kaba “dianggap sebagai sejarah”, itu hanya bagian kecil dari Tambo Minangkabau. Bagian terbesar Tambo Minangkabau justru memuat UUM, yang disebut Di Radjo sebagai boekoe ‘adat, sebagai seloek beloek ‘adat.

Bagi sejarawan, hanya fakta sejarah lah yang bernilai pada Tambo Minangkabau. Sejarawan menyatakan bahwa hanya 2% Tambo Minangkabau yang bernilai sejarah, yang 98% lebihnya adalah lumpur (!) yang tidak penting, yang malah menutupi (?) sejarah yang begitu penting.  Sejarawan yang membaca Tambo Minangkabau seperti ungkapan:
“Sagalo nan di muko dianggap paku, karano di puro hanyo ado panokok; Karano di tangan hanyo ado  sapu, sagalo nan di muko dianggap sarok.”(Segala sesuatu dianggap paku, karena pikiran dikuasai palu; Karena pikiran didominasi sapu, segala sesuatu dianggap sampah).

Bagi masyarakat dan pemerhati Minangkabau, TM adalah yang ditulis, sementara penulis tambo tersebut mengakui TM yang mereka tulis berdasarkan pengetahuan mereka dari lisan pelaku adat. Bagi sebagian sejarawan: TM itu 98% lumpur. Bagi peneliti sastra: TM hanyalah salah satu jenis prosa, tidak sama dengan pantun, berbeda dengan petatah-petitih, berbeda dengan Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau,bahkan berbeda dengan UUM. Bagi penulis adat Minangkabau mutakhir istilah TM dihapus, isinya dipecah-pecah menjadi: pedoman adat, pedoman pengulu, mustika adat, petuah adat, dan sebagainya. Penghapusan terbesar terjadi terhadap tiga kaba yang dianggap kontroversial.

5.1. TM Bukan Saduran

Wujud TM tertulis, naskah TM sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu (huruf Jawi), dan sebagian kecil ditulis dengan huruf Latin. Jumlah naskah yang sudah ditemukan adalah 83 naskah. Judulnya bervariasi, antara lain Undang-Undang Minangkabau, Tambo Adat, Adat Istiadat Minangkabau, Kitab Kesimpanan Adat dan Undang-Undang, Undang-Undang Luhak Tiga Laras, dan Undang-Undang Adat.

Dalam berbagai literatur dinyatakan:

“Pada umumnya Tambo Minangkabau adalah karangan saduran, oleh sipenyadur tidak menyebutkan sumbernya sehingga seolah-olah merupakan hasil karyanya. Ada 47 buah tambo asli Minangkabau yang tersimpan di berbagai perpustakaan di luar negeri, 10 di antaranya ada di Perpustakaan Negara Jakarta, satu sama lainnya merupakan karya saduran tanpa diketahui nama asli pengarangnya.”

Menyatakan Tambo Minangkabau sebagai saduran adalah suatu kesalahpahaman. Para penulis Tambo Minangkabau tidak menyadur dari karya siapapun, karena mereka mengambil langsung dari para pemakai asli, para pemangku adat, tokoh-tokoh adat, dan dari pemahaman mereka sendiri sebagai orang Minangkabau. Tidak ditemukan penulis TM yang menyebutkan siapa penulis atau sumber sebelum mereka.

Semua itu sebenarnya dapat dijelaskan melalui pantun yang sering dijadikan awal pembuka naskah Tambo Minangkabau.

“Kaik bakaik rotan sago
Alah takaik di aka baha
Tabang ka langik tabarito
Tibo di bumi jadi kaba
Banda urang kami bandakan,
Banda urang Koto Tuo
Kaba urang nan kami kabakan,
Duto urang, kami ndak sato”

Dalam kedua pantun tersebut jelas bahwa TM adalah berita, kabar yang tersebar di tengah masyarakat. Kabar/berita itu tidak menyebutkan sumber. Penyampai atau penulis TM meneruskan, bukan mereka yang mengarang. Naskah TM bukan saduran karena tidak ada sumber asli yang dijadikan bahan untuk disadur. Bahan TM langsung dari tengah masyarakat pelaku adat, termasuk si penulis sendiri dengan pemahaman dan interpretasinya masing-masing. Sehingga sangat wajar terjadi banyak versi TM.

5.2. Tambo Sebuah Kesatuan yang Utuh

Reduksi berkepanjangan terhadap TM menyebabkan terjadinya pemahaman parsial, terpecah-pecah, penghapusan/ penghilangan bagian tertentu, pemisahan unsur-unsur TM satu dengan yang lainnya. Akhirnya TM “hilang” secara keseluruhan. Bagian-bagian (paco-paco) TM tetap menyebar di tengah masyarakat, tapi dipahami sebagai sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri, tanpa kaitan satu sama lain.

Tiga kaba dalam TM dipahami sebagai sesuatu yang lain, atau dipahami secara tidak tepat, dipahami sebagai “sejarah” yang absurd, atau dicemooh sebagai sesuatu yang irrasional. Ketidakmampuan menangkap/memahami makna dan fungsi rahasia ketiga kaba tersebut menyebabkan terjadinya pengingkaran atau penghapusan. Keadaan ini seperti kata pepatah: Dek tak paham caro maikek, parmato disangko batu tacampak. Karena tidak memahami cara mengasah/ mengikat, permata (yang harusnya berharga) dianggap batu yang terbuang.

Ada yang menganggap salah satu kaba tersebut sebagai keseluruhan TM. Dengan pemahaman seperti itu, TM direduksi jadi sebagian kecil isi TM. Bagian lain yang lebih besar dan tidak kalah penting justru dikeluarkan dan diberi label “bukan Tambo Minangkabau”.

Pada sisi lain, terdapat para pencinta TM yang memaksakan kaba sebagai “catatan sejarah” peninggalan niniak muyang. Terjadi berbagai usaha mencocok-cocokkan kaba dalam TM dengan sejarah. Sebagian memperoleh justifikasi dan pengakuan, sebagian lain memperoleh cemoohan.

Apa sesungguhnya yang harus dilakukan agar TM dipahami?
Harus dilakukan pemahaman ulang secara komprehensif dengan para pemakai TM di masyarakat. Berusaha memahami TM dari proses terjadinya TM, menurut kacamata pelaku adat sebagai pengguna TM, dan menurut pemahaman terhadap data-data “sejarah hadirnya TM” di tengah masyarakat , masyarakat adat maupun masyarakat akademis.

Dari proses terjadinya TM, penulis memandang TM sebagai sebuah kesatuan yang utuh warisan niniak muyang melalui sastra lisan. Utuh dalam arti tidak terpisah antara 3 kaba dengan aturan adat, UUM. Utuh dalam arti TM memuat semua jenis atau bentuk sastra lisan: pantun, pidato pasambahan, gurindam, seloka, mamang, petuah dan semua Mustika Bahasa Minangkabau. Seperti tulisan Kato yang memandang TM secara holistik, komprehensif. Tambo dipandang Kato (2006) sebagai: “…  (karya) lisan dan kemudian ditulis…,  … himpunan cerita-cerita tentang asal-usul dan peraturan-peraturan adat (hukum adat).”

5.3. Memahami Tiga Kaba Dalam Tambo Minangkabau

Setidaknya terdapat tiga kaba dalam TM, yaitu: Kaba Alun Baralun, Kisah Adu Kabau, dan Kaba Cindua Mato. Ketiga kaba dalam TM adalah bagian integral yang menjadi bingkai tempat menitipkan pesan-pesan niniak muyang. Kaba tersebut dapat berdiri sendiri, tapi dia akan kehilangan maksud sesungguhnya. Kaba akan utuh jika dibaca/disampaikan sekaligus dengan isi/muatan pesan yang ada dalam kaba tersebut.

Kaba Alun Baralun (KAB) sebagai kaba pertama membawa seperangkat pesan “titipan” tentang ketentuan bernagari.  Sebaliknya, ketentuan-ketentuan bernagari menjadi bermakna dan utuh jika disampaikan dalam bingkai KAB. Ketentuan bernagari dapat saja dikutip sebagai UUM, dan pengutipan tersebut terus berlangsung sampai saat ini.

Dalam memahami TM, ketentuan bernagari tersebut hanya memperoleh makna dan memiliki “ruh” ketika berada dalam bingkai KAB. Disinilah peran KAB sebagai bingkai pesan niniak muyang tentang bagaimana membangun nagari. Dalam konteks TM, KAB menjadi wadah bagi ketentuan bernagari, dan ketentuan bernagari menjadi muatan terpenting yang dibawa KAB. Secara keseluruhan, ketentuan bernagari tidak akan mungkin diwariskan niniak muyang tanpa bingkai KAB yang luar biasa. KAB luar biasa menarik, juga luar biasa kontroversial. Dengan keluarbiasaan tersebut KAB terekam kuat dalam ingatan orang Minang.

Struktur TM sangat mudah dipahami jika didengar/dibaca keseluruhan TM sebagai sebuah kesatuan. TM dimulai dengan Kaba Alun Baralun. KAB adalah struktur awal berfungsi sebagai pendahuluan dalam sebuah karya. Dalam KAB ini ada kaba sebagai bingkai, dan ada seperangkat pesan yang dititipkan pada bingkai tersebut. Pesan dalam KAB berisi pandangan filosofis tentang asal-usul, dan seperangkat pesan tentang ketentuan-ketentuan bernagari: tentang kepemimpinan, sistem bernagari, pembagian wilayah tiga luhak, darek, rantau, masing-masing dengan sistemnya.

Setelah ketentuan bernagari diuraikan dengan bingkai KAB, TM bagian kedua dimulai dengan “Kisah Adu Kabau” yang membesarkan posisi dua datuk. KAK adalah struktur bagian tengah yang membingkai ketentuan-ketentuan adat lebih rinci tentang sistem kemasyarakatan: jenis dan tingkatan adat, struktur kepemimpinan adat di ketiga luhak, di darek dan di rantau.

Bingkai ketiga adalah Kaba Cindua Mato, yang dalam berbagai versi TM juga disebut Kisah Bundo Kanduang. Pada bingkai ketiga ini dititipkan sangat banyak pesan tentang pedoman cara hidup bermasyarakat, pedoman hidup seorang manusia Minangkabau, laki-laki maupun perempuan, inilah keseluruhan UUM. Umumnya TM ditutup dengan bab “Martabat Kato”, pedoman berkomunikasi.

Jadi, struktur TM tersebut dapat disederhanakan menjadi:

1.  Landasan filosofis bernagari dengan bingkai KAB;

  1. Struktur dan sistem kepemimpinan adat dengan pembuka KAK;
  2. Pedoman hidup manusia Minangkabau dengan bingkai KCM, yang ditutup dengan pedoman berkomunikasi.

Penutup:

Tambo Sebagai Media Pendidikan

Masyarakat Minangkabau ditakdirkan hidup di atas wilayah ring of fire, pusat-pusat pergeseran lempeng kulit bumi yang membuahkan gempa-gempa dahsyat. Ada masa ketika nenek-moyang orang Minangkabau berusaha meninggalkan jejak sejarah, seperti ratusan menhir di Mahat, sampai beberapa situs batu-batu zaman megalitikum, juga candi-candi. Tapi perjalanan waktu di tengah gempuran-gempuran alam, terutama gempa, mengikis kebiasaan-kebiasaan tersebut, karena bangunan apapun di atas wilayah ini akan hancur, rapun dilanyau oleh gempa.

Keinginan meninggalkan jejak merupakan ilham dan irhas yang diberikan Allah kepada seluruh manusia. Orang Minang dahulu telah melihat tidak ada yang bertahan menghadapi gempuran dahsyat alam Pulau Paco, pulau perca, pecahan-pecahan/potongan-potongan. Tidak ada jejak yang akan bertahan.

Mereka terus mencari sesuatu, sesuatu yang “Indak Lakang dek Paneh, Indak Lapuak dek Hujan” untuk diwariskan kepada anak cucu. Apakah sesuatu yang dapat bertahan seperti itu? Alam menunjukkan:  Yang Tidak Lekang oleh Panas, Tidak Lapuk oleh Hujan itu hanyalah  sesuatu yang tumbuh, sesuatu yang berkembang, itulah kato. Kato, kata-kata lisan, bukan tulisan, di atas batu sekalipun. Niniak muyang orang Minangkabau memilih cara “kato” untuk meninggalkan “jejak”.

Kata-kata lisan tersebut harus menyebar ke seluruh orang Minangkabau. Menyebar dan terekam dalam pikiran, keseharian, angan-angan, bahkan mimpi-mimpi mereka. Kata-kata itu harus terpahat/terpatri di hati. Maka harus indah, lahirlah petatah/petitih, pantun, pidato pasambahan, gurindam, petuah, mamangan, berbagai bentuk sastra lisan.

Sastra lisan itu harus tersebar, diperlukan wadah untuk menyebarkannya. Orang Minangkabau menciptakan berbagai arena untuk menyebarkan kata-kata jejak tersebut. Arena itu melembaga di masyarakat dan sebagian besar masih ada bahkan berkembang sampai sekarang.  Tradisi lisan itu berlangsung dalam beberapa kegiatan atau lembaga sosial:

1. Tradisi kaba, bakaba, serta segala variasinya, seperti sijobang, dendang, rabab, salawat dulang, dll.

2. Tradisi pasambahan, panitahan, pidato adat, basurah adat, kato-bajawek-gayuang-basambuik, serta segala variasinya, yang terus berlangsung sampai sekarang, sepanjang zaman pada setiap galanggang dan upacara adat.

3. Tradisi maota di lapau yang masih berlangsung;

4. Tradisi surau.

Tambo adalah media pewarisan nilai-nilai yang ditinggalkan oleh niniak muyang orang Minangkabau, dalam bentuk sastra lisan, pepatah/petitih, prosa liris yang pernah mampir pada pendengaran dan ingatan sebagian besar orang Minangkabau. Nilai-nilai itu insya-Allah pernah mampir di 98% orang Minangkabau, bukan hanya pada 2%. Bahkan mungkin 99,9% orang Minangkabau sepanjang zaman telah tersentuh oleh Tambo Minangkabau. Sejauh apapun seorang anak Minangkabau dari kampungnya, insya-Allah dia pernah tersentuh tambo.

Pengaruh empat lembaga penyebaran TM menyebabkan siapapun orang Minangkabau pernah merekam bagian-bagian tertentu dalam ingatannya. Salah satu (kalau tidak keempat) lembaga tersebut pasti pernah meninggalkan jejak dalam ingatan orang Minangkabau. Siapapun orang Minangkabau tentu pernah mendengar salah satunya: kaba, carito, pepatah-petitih, pituah, mamang, pantun atau kosa kata dari TM; di mana pun dia lahir atau dibesarkan. Di rantau sejauh apa pun, tentu ada jejak nilai dari TM dalam ingatannya, walau hanya sepotong kecil petuah, atau sebuah istilah, seperti: raso pareso, alua jo patuik, malu jo sopan, nan baiak budi, nan indah baso, bundo kanduang, pangulu, niniak mamak, cadiak pandai …. dll.

TM, atau apapun istilah untuk petuah/pedoman/undang-undang adat Minangkabau tersebut dapat dinyatakan eksis dan nyata terekam dalam ingatan setiap orang Minangkabau, di manapun, dalam keadaan apapun. Bangunan TM menyebar dalam berbagai ukuran pada seluruh orang Minangkabau, sepanjang zaman. Inilah jejak sejarah yang jarang dicari bandingannya. Mungkin hanya kalah dibanding hafalan para hafidz dan hafidzah terhadap bacaan mulia Al-Qur’anulkarim. Kalah karena sumbernya lebih rendah dari Al-Qur’an.

Seluruh orang Minangkabau adalah pengingat, penghafal TM atau bagian/paco-paco TM, dalam berbagai variasi kualitas dan kuantitas. Adalah sebuah kebanggaan bagi seorang Minangkabau, ketika dia mampu menyampaikan sepatah-dua patah kata, ungkapan, dari TM. Sesederhana apapun, benar atau salah, dia akan menyatakan dengan rasa bangga. Tiap orang Minangkabau dengan bangga akan mengutip sepotong kata bertuah itu, seolah berkata: “Ini artefak sejarah dari leluhur saya. Ini bukti saya memperoleh warisan dari Minangkabau.”

TM, termasuk kaba niniak muyang orang Minangkabau, adalah jejak, adalah artefak, peninggalan sejarah, sebagaimana piramid, sphink, Borobudur atau Prambanan. Inilah “bangunan purbakala” yang sepanjang masa direnovasi, selalu dipakai, diulang, diucapkan, dikomentari oleh jutaan orang. Bangunan yang punya duplikat paling banyak, karena dibangun di atas memory board ingatan jutaan manusia.

Inilah buah dari breeding ground, ladang persemaian yang empat lembaga: kaba-pasambahan-surau-lapau, dengan segala variasinya. Inilah jejak itu. Inilah artefak luarbiasa yang menjadi bangunan Indak Lakang dek Paneh, Indak Lapuak dek Hujan. Jejak penuh nilai-nilai. Tambo menjadi media pendidikan sepanjang masa yang menyebar serta terpakai pada empat jenis “lembaga pendidikan adat” Minangkabau: kaba-pasambahan-surau-lapau.

Tambo adalah sastra lisan, karena nenek moyang memilih sebuah wadah “kata-kata” yang ditunjukkan oleh alam sebagai sesuatu yang Indak Lakang dek Paneh, Indak Lapuak dek Hujan. Nenek moyang orang Minangkabau berguru kepada alam untuk mendapatkan wadah tersebut, termasuk untuk seluruh rangkaian nilai kehidupan di dalamnya. Allah, melalui ilham dan irhas-Nya memberikan petunjuk agar berguru kepada alam. Ilham dan irhas tersebut diberi rangka oleh orang Minang dengan mamangan adat yang berbunyi Alam Takambang Jadi Guru. Insya-Allah ini hak paten niniak muyang orang Minangkabau.

Tambo adalah buah paradigma pendidikan Minangkabau: Alam Takambang Jadi Guru.

Wallahu’alam bi al shawwab.

Padang, September 2013.

Sheiful Yazan

Kepustakaan

A Adnan Sutan Mangkuto, 1960, Masjarakat, Adat dan Lembaga Minangkabau;

Amir MS, 2003, Tanya Jawab Adat Minangkabau:Hubungan Mamak Rumah dengan Sumando, Jakarta: Mutiara Sumber Widya;

Bahar Datuk Nagari Basa, 1966, Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau, Payakumbuh: Eleonora.

Djamaloe’ddin gelar Soetan Maharadjo Lelo, 1956, Tambo Adat Minangkabau,

Edwar Djamaris, 2001, Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Edwar Djamaris, 2001, Tambo Minangkabau, Suntingan Teks dan Analisis Struktur Jakarta: Balai Pustaka.

Herwandi (ed.), 2004, Mambangkik Batang Tarandam, Kumpulan Makalah Seminar Internasional Kebudayaan Minangkabau,

Hadji Datoeak Toeah, 1954, Tambo Alam Minangkabau.

H Julius Dt Malako Nan Putiah, 2007, Mambangkik Batang Tarandam, dalam Upaya Melestarikan Adat Minangkabau Menghadapi Modernisasi Kehidupan Bangsa, Bandung: Citra Umbara.

Ibrahim Datoe’ Sanggoeno Di Radjo, 1919, Curaian Adat Minangkabau,

Ibrahim Datoe’ Sanggoeno Di Radjo, 1919, Curai Paparan Adat Lembaga Alam Minangkabau,

Ibrahim Datoe’ Sanggoeno Di Radjo Dahler Abdul Madjid Sm. Hk, Radjo Mangkuto (Datuk.), 1979, Mustika Adat Alam Minangkabau, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah;

Jeffrey Alan Hadler, 2008, Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism, USA: Cornell University Press;

Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, 2000, Bunga Rampai Pengetahuan Adat Minangkabau, Padang: Yayasan Sako Batuah;

M Rasjid Manggis Dt Radjo Panghulu, 1982, Minangkabau Sejarah Ringkas dan Adatnya, Jakarta: Mutiara.

Parlindungan, Mangaradja Onggang (1964) Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833. Jogjakarta: Penerbit Tandjung Pengharapan.

Sjafnir Abu Nain, 2006, Sirih Pinang Adat Minangkabau:Pengetahuan Adat Minangkabau Tematis, Padang: Sentra Budaya.

Tsuyoshi Kato, 1977, Social Change in a Centrifugal Society: The Minangkabau or West Sumatra (disertasi doktor, University Cornell).

Tyuyoshi Kato, 2005, Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah, Terjemahan:  Gusti Asnan dan Akiko Iwata, Jakarta: Balai Pustaka.

ADAT NAN AMPEK dengan Contoh2nya

Prolog

Assalamualaikum, wr.wb.

Berbulan2 pertanyaan tentang adat nan ampek tidak saya jawab.

Saya belajar adat tidak melalui dunia akademis. Pelajaran yang diberikan oleh mamak2 dan bapak2 saya, berkulindan tanpa struktur. Saya harus membangun sendiri “struktur” pemahaman saya terhadap adat. Saya belum menjawab selama ini, karena belum menemukan “formula” atau cara memaparkan yang efektif efisien.

Efektif = sampai kepada maksud sebenarnya,

Efisien = mudah dipahami.

 

Kali ini saya berusaha membahasnya, dengan mencoba menjawab pertanyaan.

1. Apa yang dimaksud dengan adat..?

2. Apa makna dan contoh “nan sabana adat”?

3. Apa makna dan contoh “nan diadatkan”?

4. Apa makna dan contoh “istiadat”?

5. Apa makna dan contoh “nan teradat”?

 

I. APA YANG DIMAKSUD DENGAN ADAT ?

 Adat adalah “way of life”, dalam pengertian sederhana: “pandangan hidup”.

 

Adat Minangkabau adalah bagaimana pandangan hidup orang Minangkabau, dengan pandangan hidup itu mereka menjalani kehidupan. Manusia hidup di muka bumi memiliki pandangan hidup: terhadap diri dan Tuhan-nya, terhadap alam sekitarnya, terhadap keluarganya, terhadap masyarakatnya, terhadap bangsanya, dan terhadap dunia/semesta. 

Jadi: Adat Minangkabau adalah: BAGAIMANA pandangan hidup orang Minangkabau, dengan pandangan hidup itu orang Minangkabau menjalani kehidupan.  Untuk selanjutnya, yang dimaksudkan dengan “adat” adalah: adat Minangkabau yang diwariskan niniak muyang orang Minangkabau melalui “tambo”.

(Harap dibaca juga: dokumen2 tentang tambo).

Semua pandangan hidup (ideal) tersebut tampil/terwujud menjadi:

HUKUM ADAT, UNDANG ADAT, PITUAH & MAMANGAN ADAT.

 

II. APA MAKNA DAN CONTOH “NAN SABANA ADAT” ?

nan sabana adat : adalah pandangan hidup yang substantif; substansi/ hakikat suatu tindakan/perilaku. Jadi: nan sabana adat adalah substansi KEBAIKAN yang ada dalam pandangan hidup dan perilaku orang Minang.

Pandangan hidup ini disepakati paling kuat dan paling merata mempengaruhi adat Minangkabau.

Pandangan hidup substantif ini berlaku universal, maka dicontohkan dengan: adat api mambaka, adat aia mambasahi.

Mana “nan sabana adat” dalam pandangan hidup orang Minangkabau ? 

Semua pandangan hidup unversal di dunia diakui sebagai pandangan hidup orang Minang.

Pandangan ketuhanan, kejujuran, kedamaian, keindahan, kasih sayang, keadilan, empati, kerjasama, adalah nilai2 universal yang ada dalam “pandangan ideal” orang Minang.

Ada pituah dan mamangan adat tentang semua pandangan universal tersebut.Ini lah “nan sabana adat”.

Di samping “pandangan hidup universal” tersebut, orang Minangkabau memiliki pandangan hidup khas Minangkabau, yang menjadi ciri “nan sabana adat” Minangkabau, antara lain:

– Alam takambang jadi guru

– Nan baiak budi nan indah baso

– Musyawarah mufakat, bulek aia ka pambuluah, bulek kato dipaiyokan

– Perlindungan terhadap perempuan dan anak2, (walaupun ini pandangan universal, tapi hanya Minangkabau yang menjadikannya “hukum adat” melalui harta komunal).

 

III. APA MAKNA DAN CONTOH “NAN DIADATKAN” ?

nan diadatkan (nan dijadikan adat) : tindakan/perilaku yang telah disepakati niniak muyang sebagai adat Minangkabau. Ini semua menjadi pola kehidupan bermasyarakat KHAS Minangkabau.

Sumber dari pandangan hidup “nan diadatkan” adalah penjabaran niniak muyang terhadap nilai universal dan DIADATKAN (dijadikan patokan cara hidup).

Contoh:

Suku, kaum, Sako, Pusako : adalah sistem hidup komunal sebagai penjabaran: kebersamaan, perlindungan terhadap perempuan dan anak2, kerjasama.

Semua itu diadatkan (dijadikan adat) oleh niniak muyang dengan dasar pandangan universal, dengan tujuan/maksud dan kearifan untuk mempertahankan dan melanjutkan Minangkabau.

Kalau nan diadatkan tersebut berubah, maka perubahan itu juga terjadi pada “pandangan hidup” orang/masyarakat yang merubahnya.

Contoh:

Ketika terjadi ribut/heboh perdebatan HPT,

Sesungguhnya yang terjadi adalah: TERGERUSNYA/HILANGNYA kearifan, pandangan hidup “kebersamaan”, “kekeluargaan”, “kehidupan komunal”, “perlindungan masa depan perempuan dan anak2”.

Berubah menjadi pandangan hidup “individualis”,

Akhirnya menjadi “homo homini lupus”,

 

Menghapus nan diadatkan (suku, kaum, sako, pusako) adalah menghapus Minangkabau.

 

IV. APA MAKNA DAN CONTOH “ISTIADAT” ?

 istiadat : tindakan/perilaku yang dipandang baik secara bersama, disepakati untuk dilaksanakan, terjadi pengulangan tanpa penolakan.

Pada dasarnya, istiadat adalah PENJABARAN dari “pandangan hidup universal” dalam bentuk2 khas sesuai kreatifitas dan dukungan kondisi.

istiadat (pengulangan dan penjabaran) pandangan hidup universal.

Contoh 1:

Pandangan hidup universal: (1) musyawarah mufakat, (2) nan baiak budi, nan indah baso

Dijabarkan dalam istiadat: pidato adat, pasambahan, panitahan, kato-bajawek.

Contoh 2:

Pandangan hidup universal: (1) kemanusiaan, (2) empati, (3) solidaritas/kebersamaan

Dalam Islam pandangan universal ini disebut: silaturrahim.

Dijabarkan dalam istiadat: hiduik jalang-manjalang, sakik silau-manyilau, mati janguak-manjanguak. 

 

V. APA MAKNA DAN CONTOH “NAN TERADAT” ?

teradat (ter-adat-kan, menjadi adat karena disukai) : tindakan/perilaku yang disenangi/disukai untuk dilakukan secara berulang2, memperoleh penguatan masyarakat.

nan teradat adalah KESUKAAN anak nagari seperti kesenian, olah raga, pencak silat randai, talempong, berbagai jenis pakaian laki-laki, pakaian wanita, berbagai jenis2 makanan. Termasuk karya seni ruang: ukiran, marawa, umbua2, gaba2, pelaminan dsb. 

Sebenarnya,

Semua nan teradat (kan) merupakan penjabaran/pengembangan dari pandangan universal mengenai “keindahan”, “kedamaian”, “kebahagiaan”.

 

VI. PENAMAAN DAN URUTAN ADAT NAN AMPEK

Penamaan dan urutan ke empat jenis atau tingkatan tersebut sangat bervariasi/beragam.

Hanya satu yang disepakati secara sama: nan sabana adat diakui “paling tinggi”, “paling penting” “paling utama”, dsb.

Apakah tiap perilaku orang Minang terkait dengan (hanya) satu di antaranya?

Menurut saya:

Setiap perilaku/tindakan orang Minang dipengaruhi ke-empat adat tersebut.

Ada pengaruh yang kuat, ada yang lemah.

Jadi kalau didalami:

SETIAP PERILAKU/TINDAKAN orang Minang DIDORONG SALAH SATU jenis adat tersebut.

SETIAP PERILAKU/TINDAKAN orang Minang mengandung KEEMPAT jenis adat tersebut.

 

Khusus istiadat dan nan teradat, sering terbolak-balik, bertukar pemahaman.

 Catatan:

Peluang terjadinya “penyimpangan” atau “pertentangan” dengan syarak sangat besar pada istiadat dan nan teradat. Karena keduanya merupakan PENJABARAN/PENGEMBANGAN dari nilai/pandangan universal.

Penjabaran.pengembangan yang berlebihan, sering menimbulkan kritik dari pengkaji syarak.

Tapi, sering terjadi, kritik hanya pada “penampilan” istiadat atau nan teradat. Jarang kritik berusaha menggali “nilai” atau “pandangan hidup” yang dikandungnya.

Wallahu’alam. Wassalamu’alaikum.wr.wb. 

 

JENIS HARATO di Minangkabau

SARATO KEARIFAN DI DALAMNYO

Banyak grup dan diskusi di ruang maya yang menganggap HARATO di Minangkabau cuma HPT dan HPR. Padohal, masih BANYAK JENIS dan BANTUAK nyo. Sebagian besar adolah HARATO KOMUNAL, pemilikan sacaro kolektif, tapi pemanfaatan bisa personal.

Harato di Minangkabau dapek dibagi berdasarkan “kepemilikan” dan berdasarkan “caro mandapek-kan”nyo.

A. Kapamilikan

1. Harato Nagari

2. Harato Adat

3. Harato Kaum

4. Harato Faraid

B. Caro Mandapek

1. Harato Tambilang Ameh

2. Harato Tambilang Basi

3. Harato Tambilang Kayu

4. Harato Tambilang Tunjuak

 

A.1. Harato Nagari: adolah harato kolektif nan disapakati dek niniak muyang nan managak-kan nagari, sabagai milik basamo saluruah anak nagari. Pemanfaatan untuak saluruah masyarakaik, badasarkan kasapakatan.

Ado duo harato nagari: 1. Ulayat Nagari; 2. Paragat Nagari.

Ulayat Nagari: Tanah Ulayat (tanah cadangan), Hutan Ulayat, Hutan Larangan, Banda Larangan.

Paragat Nagari: Musajik, Balai Adat, Labuah, Pasa, Tapian, Baramban, Pakok-an, Banda, Darmaga, Galanggang (tanah lapang, pacuan kudo).

 

A.2. Harato Adat: adolah harato kolektif nan dipagunokan untuak urusan perangkat adat. Pemakaian berdasarkan kesepakatan niniak-mamak dalam nagari, atau niniak mamak dalam kaum.

Harato Adat duo tingkatan: Harato adat nagari, harato adat kaum/suku

Harato Adat Nagari: Kubu, Sawah Paduan, Bonjo, Benteang.

Harato Adat Kaum/Suku: Ulayat Kaum, Surau, Tabek, Pandam/ Pakuburan, Sawah Abuan.

 

A.3. Harato Kaum: Harato dengan hak pakai (hak tanam/tuai) oleh seluruh anggota kaum dengan persetujuan Pangulu. Pusako (HPT): Sasok Jarami (sawah), Ladang, Rumah Gadang, Rangkiang.

 

A.4. Harato Faraid: HPR Harato privat (milik pribadi) pencarian

 

B.1. Harato Tambilang Ameh:

harato (semua jenis harato kalompok A) nan didapek malalui jua-bali.

 

B.2. Harato Tambilang Basi: harato nan didapek malalui malaco/ manaruko.

 

B.3. Harato Tambilang Kayu:

harato nan didapek malalui pamufakatan antar nagari atau antar kaum.

 

B.4. Harato Tambilang Tunjuak: harato nan didapek malalui kekuasaan atau kewenangan kerajaan, atau kekuatan wibawa niniak muyang.

 

Keterangan2:

KUBU

Kubu tu ado duo.Kubu tampek barundiang, kubu tampek batandiang.

Wujudnyo taisuak samacam tanah strategis di ateh atau di pinggang bukik. Ukurannyo indak laweh, sakitar duo puluah dapo persegi.Diuntuak-kan sabagai tampek bertahan dek parik-paga-dalam, katiko mahadapi serangan dari lua nagari.

Biasonyo, sasudah tu jadi milik Pangulu Pangkatuo Kubu (Koto-Piliang), atau Pangulu Andiko (Bodi-Caniago).

 

SAWAH ABUAN /SAWAH PADUAN

Sawah Abuan adolah harato adat kaum. Milik kaum, tapi untuak aleh tapak pangulu. Pambali timbakau. Sawah Abuan biasonyo di-saduokan ka urang lain, indak dikarajokan dek kamanakan doh. Hasianyo (sapaduo) dijapuik dek kamanakan ka nan manyaduoi. Dijadikan pitih pambali timbakau Pangulu. Jadi, pangulu indak mintak2 ka kamanakan doh.

Biasonyo suku2 nan managak-kan Koto jo Nagari mampunyoi Sawah Abuan. Tapi banyak nan lah hanyuik. Manuruik inyiak ambo, paliang banyak Sawah Abuan ko tajua maso Japang.Ado pangulu nan manjua sawah abuannyo sakadar sapiriang kacimuih.Dek suliknyo nan ka dimakan.

Ado pulo Sawah Paduan.

biasonyo di Kalarasan Koto Piliang. Untuak aleh tapak Pangulu Pucuak Bulek, nan mauruih nagari.

 

 

 

Falsafah nan tasimpan adolah:

Adat mamikiakan nasib pangulu malalui Sawah Abuan, sahinggo pangulu “bajalan ba-aleh tapak”. Indak ikhlas beramal see doh.Dengan Sawah Abuan, pangulu mampunyoi “gaji”, sahinggo inyo terhormat dalam manjalankan tugeh.Kalau indak, dari ma nyo dapek pitih pambali timbakau? Tantu pangananyo ka-manjua harato lai.

 

“DEGRADASI KEARIFAN KOMUNAL”

 

Assalamualaikum,

Mamak2 jo Dunsanak sadonyo. Ado sinyalemen menipis/hilangnyo kearifan komunal, dan masyarakat awak manuju masyarakat individualis.

Kasus2:

1. Harato komunal (Ulayat, HPT, harato nagari dll.) lah ba-ansua2 barubah status jo fungsinyo. Status nyo jadi harato privat, fungsi komunalnyo hilang.

2. Sikap/perilaku komunal (Anak ciek, kamanakan satu; kepedulian terhadap masalah bersama, kesediaan babagi, dsb) makin menurun.

Keluarga inti (Istri-suami-anak) menguat, kebersamaan suku/kaum semakin longgar dan melemah. Terutama kalau HPT lah babagi, lah basertifikatkan. Hubungan mamak dengan kemenakan semakin indak bakatantuan.

Salah satu kearifan niniak muyang dalam harato komunal, adolah fungsi nyo dalam keberlanjutan, sustainability cek rang subarang, terhadap identitas nagari, identitas Minangkabau. 

Tanpa harato komunal, kaum/suku kehilangan “ikatan”.Tanpa harato komunal nagari, nagari kehilangan ‘identitas”.

Usul ambo:Paralu disuwaraik-kan:

MORATORIUM, penghentian perubahan status harato komunal di Minangkabau.

  •  
    • Jamil Jaey hal itu memang indak mudah do pak Sutan Mangkudun. manuruik ambo, marubah budaya harus dengan budaya. pendekatannyo mungkin perpaduan antaro struktural dan cultural.

       

    • IonStar Ionn tunggu lah dek inyo hukuman dari anduang2 nan la maningga tu… 

      Di pihak awak ado lo ciek tu mah, kini sadang sakik sakik e dek ulah cangok jo pusako….

       

    • Zul Afmi Akhiruddin Kadang2 memang ada saatnyo yg disebut Harta Komunal ini beralih menjadi Hak Privat. Contoh, ada tanah ulayat yg biasa digarap secara bersama, namun kerana kepentingan umum tanah ulayat ini harus mengalami ganti rugi. Jadi sertifikasi atas nama org perorang menjadi pilihan solusi. Contoh kasus, pembangunan Bandar Udara International Minangkabau telah berakibat ‘privatisasi’ tanah ulayat disekitarnya…

       

    • Tuanku Mangkudun ‎..Memang ada kepentingan lebih besar yang dapat diakomodasi, Sanak Zul Afmi Akhiruddin. Tentu dengan semangat “kepentingan komunal yang lebih besar”, termasuk kepentingan negara.Yang jadi masalah, ketika satu demi satu harta komunal bera…Lihat Selengkapnya

       

    • Zul Afmi Akhiruddin Betul Kanda Tuanku Mangkudun. Contoh diatas adalah satu kasus khusus demi kepentingan yg lbh besar. Tanah ulayat nenek ambo (Ulakan Tapakih, perbatasan Kataping) cukup luas telah disertifikasi ke hak privat.

       

    • Tuanku Mangkudun ‎..Nan paralu jadi perhatian bana, Sanak Zul Afmi Akhiruddin, adolah perkembangan sosial ekonomi masyarakat asli di daerah investasi.Jan sampai mereka jadi “penonton” dalam hingar bingarnyo “kemajuan”. Di siko sabana nyo peran dan perhatian elite terhadap kehidupan komunal di wilayah investasi.

       

    • Zul Afmi Akhiruddin Mestinyo begitu Kanda Tuanku Mangkudun… Tapi setahu ambo dulu itu, ambo perhatikan org2 yg diberi sertifikat itu kalo alah mancaliak pitih sakabek, mato langsung ijau dan lupo bapikie ka mungko hehehehe

       

    • Tuanku Mangkudun ‎..HeheheItu nan jadi pinyakik.Kalau lah hijau mato tu, lah kalam pancaliak-an.Ndak takana nan ka tibo lai.

       

    • Tuanku Mangkudun ‎..Ambo penelitian di sapanjang jalan By Pass Padang, salamo 3 tahun. Memang itu nan tajadi.Pitih ko sabana bakuaso.Pacah kaum, kamanakan malawan, mamak lah lupo diri.

       

    • Zul Afmi Akhiruddin Betul Kanda Tuanku Mangkudun. Kebanyakan yg mambali dulu itu saudara kito cino dari kota padang…

       

    • Syahdiar Dt Tunaro 

      Ndak cuma itu sajo doh Tuanku Mangkudun, tumbuah di baralek kawin…di kota-kota lah banyak nan bakurangi pulo, sahinggo alek bisa dikarajokan sahari sudah. sarupo: bakato-kato atau baundi, mancari urang nan patuik kadijadikan junjuangan dek kamanakan, dipanggie urang sumando sadonyo sarato jo bakonyo bagai, dek mamak maharagoi urang sumandonyo. sudahtu dipanggie pulo mamak kasadonyo, dek urang sumando maharagoi mamak rumah, dipulangkannyo kamamak nan kamanimbang mangacak sarato alue jo patuik….Lah dapek…..Basugirolah bapak duo urang pai mananyoi karumah calon marapulai…..lah dapek kato sapakaik….mako amai-amai lah basiap-siap pulo kamangarajokan acara batimbang tando dst…….banyak pakarajaan nan harus dikarajokan sacaro basamo-samo nan mambuek awak saling ketergantungan

       

    • Yunzar Lubis 

      Sejatinya, semua persoalan tidak terlepas dari “sikap hati”. Apakah dalam diri kita masih melekat “sikap hati” sebagai orang Minangkabau, akan mempengaruhi keputusan kita apakah masih dijiwai keminangkabauan atau tidak. Baik sahwat “privatisai” HPT ataupun sahwat-sahwat lainnya yang mengabaikan keminangkabauan. Kunci pembangunan kekuatan “behteng hati” itu, saya pastikan didominasi oleh pendidikan dalam arti luas. Maka titik awal masalah dan yang akan mengakhiri masalah adalah “pendidikan keminangkabauan”.

       

    • Anizon Makmoer 

      Sinyalemen yang disimpulkan dek Tuanku Mangkudun, benar adanya….Dari tangapan dunsanak..dapek pulo kita simpulkan,…isabab2 dari luar jo sabab2 dari dalam…satu samo lain saliang berkaitan nampak nyo…kalau indak namuah awakkahilangan identitas…kadalam awak harus satu pandangan dulu…manuruik ambo pangaratian adaik di keluarga inti harus mantap dulu..panglimo jo kapalo staff harus satu pandangan….ayah sebagai mamak dikeluarga nyo, ibuk sebagai bundokanduang di keluarga inti…harus pahami pulo…iko adolah dasar dari degradasi fungsi mamak..didalam adaik Mk….sekedar pandapek awal,wassalam

       

    • Haznel Syukur Manuruik ambo degradasi ko masalah eksternnyo mengembalikan hak ulayat dengan revisi undang undang pertanahan dalam hal ini BPPN khusus untulk tanah Ulayat

       

    • Anizon Makmoer AssWrWb, Pak Haznel, marubah undang2 ko, awak harus manang pemilu dulu Pak,….

       

    • Anizon Makmoer Antah ko lai namuah Pak Irman Gusman..mangarehan di SEnayan…hehe

       

    • Anizon Makmoer Keabanyakan tanah Ulayat dikampuang awak indak produktif…nan punyo…banyak nan…lah diambiak urang baru maraso..itu punyo den…Sedangkan Undang2..tu dasar nyo Itu..bana……baa aka lai….hehe

       

    • Anizon Makmoer Kalau nak jaleh bana..Tanyoan ka Pak Hasan Basri Durin…..

       

    • SuhArmen Kini Bakurangnyo harato komunal HPT ko adolah indikasi makin malamahnyo kapamimpinan (kolektif) laki-laki di Minangkabau. Bukti samantaro, umpamo alah indak ado laki-laki Minang kiniko nan bapikia “kaum”, rato-rato bapikia “paruik” . Di sikolah fungsi “surau” nan kito anggap alah indak penting tu…

       

    • Tuanku Mangkudun ‎..Babarapo poin nan ambo agiah garih bawah:Jamil Jaey: marubah budaya harus dengan budaya. pendekatannyo mungkin perpaduan antaro struktural dan cultural.Zul Afmi Akhiruddin: org2 yg diberi sertifikat itu kalo alah mancaliak pitih sakabek, lupo bapikie ka mungko,Syahdiar Dt Tunaro: tumbuah di baralek kawin…di kota-kota lah banyak nan bakurangi pulo, sahinggo alek bisa dikarajokan sahari sudah.Yunzar Lubis: persoalan tidak terlepas dari “sikap hati” sebagai orang Minangkabau, Kunci pembangunan kekuatan “benteng hati” itu, adalah “pendidikan keminangkabauan”.Anizon Makmoer: * sabab2 dari luar jo sabab2 dari dalam* pangaratian adaik di keluarga inti harus mantap dulu..* ayah sebagai mamak dikeluarga nyo, ibuk sebagai bundokanduang di keluarga inti…harus pahami pulo…iko adolah dasar dari degradasi fungsi mamak.* Kebanyakan tanah Ulayat indak produktif….lah diambiak urang baru maraso.Haznel Syukur: masalah eksternnyo mengembalikan hak ulayat dengan revisi UU Pertanahan dalam hal ini BPPN khusus untuk Tanah Ulayat,SuhArmen Kini: * Indikasi makin malamahnyo kapamimpinan (kolektif) laki-laki di Minangkabau. Alah indak ado laki-laki Minang kiniko nan bapikia “kaum”, rato-rato bapikia “paruik” . * Di sikolah fungsi “surau” nan kito anggap alah indak penting tu…

       

    • Anizon Makmoer 

    • ‎….Pendataan tanah dengan prona adalah program pemerintah….,pengalihan fungsi tanah ulayat…nan menjadi keperluan umum…adalah suatu tu keharusan warga negara.kompensasi nya sebaik nya tanah lagi……tanah ulayat yg tidak produktif…memang agak dilemma….(ketidak berdayaan)….salusinya…karena lah kambang dibagi peruntukan..antar kaum…< tidak semua yg berhak peruntukan tidak dikampung (merantau)…..ini menjadi kendala lagi…..tidak semua juga tanah ulayat bernnilai ekonomis..(terutama di kampuang)…..luas nya tidak memadai..kalau ditawarkan kepada investor…..kalau digabuang2…,kesepakatan sulit diperoleh….ini sebahagian kendala nampak nya….silakan ditambahkan yang lainnya….Wass

“SEJARAH” Bukit Marapalam

Banyak perdebatan tentang peristiwa Bukit Marapalam. Banyak yang ngotot /memaksakan bahwa peristiwa itu ada, dan itu sejarah. Tapi, ketika dicari “data” sejarah tersebut, terjadilah pertikaian “jalan tiada ujung”, karena tidak ada data sejarah (yang kuat) yang dapat menjelaskan kapan, dimana, bagaimana, dan siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Sebagian sejarawan menyatakan itu “historigrafi” yang tidak perlu menjadi sejarah. Substansi “peristiwa” Bukit Marapalam adalah adagium paling populer: ABS-SBK (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah).

Ambo lah mambaco transkrip ABS-SBK nan ambo kalompok-kan kadalam ampek versi. Dari babarapo diskusi, ambo bapandapek bahwa transkrip “Marapalam” indak SATU versi, sakurangnyo ado 8 (salapan) versi manuruik mareka. Dari 8 versi tu pun dapek dikalompok-kan jadi ampek kutub nan babeda, bahkan batantangan, yaitu:

1. Transkrip hasil karya kelompok “pro-Islam” (ado istilah nan kurang bagus, sarupo: Wahabi, dst…) Ciri utama transkripko manggunokan term2/istilah2 nan kental bahaso Arab-nyo, sarupo: bai’ah, sulthan/sultan, kesulthanan/kesultanan, termasuk namo Darul Quorar/Qaarar. Istilah2 nan paralu dipertanyakan kesahihannya.

2. Transkrip hasil karya kelompok “pro-adat”.

Ciri utama transkrip ko: termnyo: Sumpah, pasumpahan, sumpah sati, tamasuak ambo curiga jo mamangan adat: adat basisampiang syarak batilanjang. Walaupun ado penjelasannyo, tatap disitu manyimpan konotasi “mancimeeh”.

3. Transkrip hasil karya “kerajaan”. Sangat kentara ado peran2 kerajaan “dipaksakan” masuak dalam transkrip.

4. Transkrip nan dapek dianggap “netral”, “independen”, tidak terpengaruh kelompok pro-Islam maupun pro-adat, tidak ada pesan2 yang dipaksakan. Umumnyo transkrip ko mamakai term: piagam, kesepakatan, traktat (iko dicurigai pesanan Ulando).

Dari keseluruhan transkrip tu sangat kentara nan muncul adolah “Jejak” pertikaian sepanjang sejarah. Kato “kompromi” atau “kesepakatan” rasonyo sebuah pemaksaan konseptual terhadap pertikaian2 nan ado.

Jadi dima lataknyo Bai’ah/Piagam/Sumpah Sati/Traktat Marapalam..?

Seluruhnyo ado dalam memori kolektif urang Minang dengan seluruh versi nan ado.

Ma nan paliang “Sejarah”..?

Manuruik ambo: Seluruhnyo “sejarah” sinkretis.

Sejarah “penerimaan” yang berlapis-lapis dari pemuka adat dan pemuka agama yang kedua2nya mencintai Minang sekaligus mencintai Islam.

Bingung?

Indak.

Justru sangat nyata: Sepanjang sejarah, seluruh ulama dari Minang menginginkan Minangkabau jadi Islami, dan seluruh pemuka adat bersitegang menyatakan mereka Islami.

Dalam dialektika pemikiran itulah keduanya SALING MENDEKAT. Kompromi itu terjadi tidak terikat pada satu waktu tertentu, TAPI SEPANJANG WAKTU.

Jadi, ado kah kompromi kaum adat jo Tuanku Imam Bonjol..?

Data sejarah indak ado (nan kuat).

Data “sejarah sinkretis” sangat kuat, buktinyo TIB diperjuangkan jadi pahlawan, orang adat menambah perangkat adat dengan gelar “tuanku”, sebuah gelar nan indak dapek dirujuak asal-muasalnyo. Beda jo perangkat: malin, katik, kari, dll nan jaleh dari bhs. Arab.

Jadi kompromi adat jo TIB bukan terjadi maso TIB hidup, tapi sepanjang waktu sampai saat kini, sampai ado IAIN Imam Bonjol.

(Bandingkan misalnya dengan “PENOLAKAN” terhadap nama Adityawarman. Nama Universitas Adityawarman semula diajukan Soekarno, tapi seluruh tokoh Minang menolak, karena berbau “penjajah dari Jawa”. Jadilah namanya Universitas Andalas).

Penutup

Bagi ambo,

Peristiwa Bukik Marapalam BIA LAH tatap jadi historiografi, bahkan disabuik sebagai “kaba” pun indak masalah. Indak paralu dipaso2kan sebagai sejarah.

Nan PALIANG PENTING bagi ambo:

ABS-SBK tu ado dalam memori kolektif saluruah urang Minang.

Artinyo:”Pertemuan Bukik Marapalam” tu telah/sedang/masih akan berlangsung dalam satiok diri kito urang Minang.

Peristiwa SALING MENDEKAT nyo Adat dengan Syarak sepanjang sejarah.

Peristwa batin basandinyo Adat kapado Syarak.

Catatan:
Kato2 “curiga” itu sakadar untuak mamahami perbedaan2 trankrip Marapalam nan balain2 sumbernyo. Maaf, kalau taraso mambelok-kan “makna” pituah adat. Bukan itu mukasuiknyo.
Ado transkrip2 nan bahkan saliang bertolak belakang isinyo, padohal samo2 tantang peristiwa Marapalam.

Yunzar Lubis Benarkah peristiwa Bukik Marapalam ada, dan itu sejarah ? Jawabnya, iya. Buktinya produk Marapalam walaupun dengan berbagai versi. Benarkan “peristiwa” itu seperti yang digambarkan/ ada versi yang benar dalam rumus 5W + H , jawab inilah yang jalan tak ada ujung, Tuanku Mangkudun. Itu analisia ambo, Tuanku.

Ambo manompang pado frase: “jalan tak ada ujung” nan Uwan sabuik.
Ambo menganggap “memang jalan tu bana nan dibuek baliku, babelok2, supayo ujuangnyo hilang.”
Baa baitu?
Sarupo babarapo pernyataan terdahulu,
Ambo menganggap “jejak” nan ditinggalkan niniak muyang bukan hanya kearifan, tetapi juga JEJAK PERTIKAIAN, juga JEJAK PENOLAKAN, juga JEJAK PENGABURAN/PENGHILANGAN data faktual.

Ambo MENYALAHKAN niniak muyang..?
Indak..!!

Ambo menganggap niniak muyang SENGAJA menghilangkan data faktual tersebut, karena data faktual itu juga bercampur dengan DARAH.
Jadi pertanyaan di grup BAMBS tantang baa peristiwa perang Paderi indak paralu kito ulang2. Karano di situ ado luko nan parah.
Luko nan indak paralu dibukak baliak. Indak ado gunonyo.
Peristiwa Marapalam MUNGKIN peristiwa sejarah.
Tapi niniak muyang INDAK ingin mewariskannyo dengan detail2 nan indak penting: waktu, tempat, pelaku dsb INDAK PENTING.
Nan penting diwariskan adolah SUBSTANSI peristiwa.
Apo substansinyo?
Saling mendekatnyo pengamalan adat dengan syarak.

Itu kearifan niniak muyang nan ambo baco pado PENYEMBUNYIAN/ PENGABURAN data faktual tu.

Dari salapan versi peristiwa Marapalam, sebagian besar memang marujuak kapado maso Paderi.
Maso Paderi adolah maso nan indak paralu kito ungkik2 bana.
Hanyo mambukak luko lamo nan badarah2.
Kalau ado juo nan ingin “marasokan”, ambo tunjuak-kan tampeknyo,
Ado novel Muhamad Solihin, “Api Paderi” nan dapek maantakan kito ka suasana tu.

Untuak apo kito kaja sampai “ka liang batu” tantang data2: waktu, tempat, tokoh, proses, dsb..?
Apalagi data2 itu dikerubungi oleh data sejarah yang penuh luka.
Niniak muyang SENGAJA menyembunyikan data2 itu, tapi TETAP MEWARISKAN SUBSTANSI peristiwa.
Haruskah kita membongkar2 luka, sementara niniak muyang telah mewariskan yang lebih BERMAKNA/BERNILAI bagi kito untuak maso depan Minangkabau..?

Bianglala Senja

perang padri tu peristiwa tergelap dalam sejarah ranah minang, demi mempertahankan ranah minang, maka dunsanak pun di serak kan darahnyo, bagi paderi halal darah seorang kaum adat, karena mereka tetap menjalani kehidupan yang tidak sesuai syara’, bagi paderi cibuak nan talatak di janjang tu iyo pambasuah kaki sampai barasiah, supayo jan sampai lantai rumah kanani najis, sabab mereka ka sumbayang di lantai tu, bagi kaum adat ka maaliah i ”buatan” niniak muyang ko taraso barek, teramat perlulah bagi mereka untuk menjaga romantisme masa lalu, nan parewanyo kok manyabuang ayam, barambuang, ba koa, baguru gayuang, tinggam, parmayo itu paralu bana, sabab di galanggang itu paguno, itu sebagian cara hidup mereka yang berbeda. 1827 itu minang kabau bakuah darah, Jalan panjang penegakan syara’ itu sendiri tidak hanya ketika pertikaian dengan kaum adat saja yang muncul, tetapi juga ketika di kalangan sesama kaum agama, fatwa haram atau halalnya pantalon yang notabenenya adalah sarawa bulando juga sempat jadi perbedaan pendapat, tetapi pada fase ini tidak ada lagi pembunuhan, hanya tercipta lah kubu kubu sampai akhirnya beliau beliau mengelompokkan persoalan dimana semua urusan kilafiyah tidak akan mereka pertentangkan, lalu bagi yang tidak memiliki kepandaian untuak mengistimbatkan hukum, ndak ndak pandai batulaah, mako wajib bagi mereka untuak taqlid kepada salah satu mazhab. (baca biografi Injiak Tjandoeang) itu bagian dari fakta sejarah yang perlu di kaburkan. Karano kalau tagaliciak kito bakeh lalu, sugirolah baraliah tampaik tagak.
Sejarah apo pun adolah “rekayasa” data masa lalu, oleh penulisnya.
Selalu ado “kepentingan” tertentu penulis sejarah.
Ketika Belanda menulis sejarah: Imam Bonjol adalah pemberontak.
Ketika pemerintah RI menulis sejarah: Imam Bonjol adalah pahlawan.Warisan niniak muyang tentang masa lalu (tambo, kisah, riwayat, dll) sering membawa “kepentingan” tertentu. (Contoh: dokumen “Kritik naskah Marapalam I).
Tapi, secara keseluruhan, peninggalan niniak muyang berupa naskah Bukit Marapalam, mewariskan kearifan ABS-SBK, di samping meninggalkan “pertikaian” dan pengaburan data waktu.
Zainil Tanjung:
Ambo memang pernah mandanga hampiang samo jo kalimat nan diateh ko… jadi… manuruik sumber yg ambo danga ko… kato dari “MARAPALAM” adalah sebuah istilah. MARAPALAM = MARAPEK KA ALAM, mako itulah yg disabuik Alam Takambang Jadi Guru. sahinggo kalua adigumnyo ABS (Adat Basandi Syara’) -SBK (Syara’ Basandi Kitabullah) Syara’ mangato, Adat mamakai….

Apuak Sipisang apo pun judulnyo, baiak sejarah atau pun hanyo historigrafi, nan jaleh barang tu kini alah jadi.
dan kita tau, tidak satu pun kejadian nan tajadi begitu ado sudah langsuang samparono sebagaimano nan kito tamui kini.
semua pasti ado proses penyempurnaan, dan bagi ambo proses itu lah nan sabananyo sejarah.
mau batanggal atau tidak,
mau samo tampaiknyo atau indak,
Zamwil Mingkudu

Suai ambo uan Apuak@
Nan terbaik manuruik ambo, kitoko bisa tau tampek, wakatu, musabab, jo urang2 nan talibat di dalamnyo.
Tapi nan terbaikko, bak kato mak TM@ alun tantu nan paliang elok.
Dengan kabuanyo, tampek, ukatu dllnyo, disikolah analisa logika dan analisa prasangka, dan analisa hasil guna kito nan kudianko di uji, apokoh kito labiah condong mampakaruak arangan waktu, tampek dllnyo. Atau kitoko manyibak nan tasirek jo nan tasuruak sarato nan taserak dari nan kabuako.Nan arif bijaksano, maambiak iktibar dan praduga positif, dgn lebih menitik beratkan fokus kapado pelajaran dan nilai luhur moral dan adat dari kejadian itu.

Apuak Sipisang batua, jadi dlm hal ko, sistem pembuktian tabaliak indak bisa dipakai, karano namo-namo tampek nan ado di carito bukik marapalam indak cocok.
cuman janganlah buru-buru menuduh “dia” bukan sejarah, disebabkan hanya karena urang gaek kito saisuak indak kenal jo tanggal.
peristiwa nan indak mamakai tanggal, bukan berarti tidak bertanggal.
Haznel Syukur

‎>Dalam kebanyakan budaya pramoden, ada dua cara berpikir, berbicara, dan memperoleh pengetahuan yang diakui. Orang Yunani menyebutnya mythos dan logos. Keduanya penting dan tidak satupun yang dianggap lebih unggul dibanding yang lain ;keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Masing masing memiliki bidang kompetensi .
>Logos (“nalar”) adalah cara berpikir pragmatis yang memungkinkan orang untuk berfungsi secara efektif didunia tetapi ia memiliki keterbatasan: Ia tidak dapat melipur kesedihan manusia atau menemukan makna tertinggi dari perjuangan hidup. Untuk yang itu, manusia beralih kepada mythos atau “mitos”
>Sejarah adalah suatu disiplin ilmu pada permukaannya sejarah tidak lebih daripada sekadar keterangan tentang peristiwa politik, Negara,dan kejadian masa lampau yang tampil dalam bentuk ungkapan dan perumpamaan. Dalam hakikat sejarah, terkandung pengertian observasi dan usaha mencari kebenaran (tahqiq), keterangan yang mendalam tentang sebab dan asal benda wujud, serta pengetahuan tetang substansi, essensi,dan sebab terjadinya peristiwa.Dengan demikian, Sejarah bebar benar terhujam berakar dalam filsafat, dan patut dianggap sebagai salah satu cabang filsafat.
>Maksud saya disini adalah membaca tambo tidak cukup hanya dengan kedisiplinan ilmu yang dikembangkan oleh ilmu modern yang disebut ilmu positip berdasarkan data dan fakta , juga selayaknya didekati dengan melampaui nalar {transcendent) seperti seni,musik, atau puisi keindahannya akan dirasakan dengan menghayatinya
Asmawi Kasim Ambo sato manyalo saketek, dalam Al-Qur’an banyak pulo kito tamui kisah-kisah (ado juo para ulama nan mangatoan sejarah), misalnyo kisah Nabi-nabi, Lukmanul Hakim, Qarun dll, Allah ndak manyabuik-an tanggal, bulan jo tahunnyo.
Ado beberapa contoh lain nan patuik jadi bahan renungan kito basamo, sekedar perbandingan:
1. Namo “Indonesia”. Indak ado data pasti siapo nan partamo mamperkenalkan/menggunokan namo Indonesia. Tapi, sasudah Soempah Pemoeda 1928, seluruh dunia “sepakat” mamakai namo “Indonesia” tanpa mempedulikan lai: siapa, kapan, dimana namo tersebut muncul partamo kali.
2. Katiko 1 Juni “disepakati” sebagai hari lahir Pancasila. Urang2 maklum sajo, tanpa memperdebatkan apokoh Soekarno atau M Yamin, atau tanggal 29 Mei, 30 Mei sebagai hari “lahir” Pancasila.Konvensi, kesepatakan, menyelesaikan perdebatan. Karano nan penting “substansi” sudah di tangan. Waktu, tempat, orang/tokoh cukup sekedar “catatan” sejarah.

Dalam analisis filosofis adat, mamangan adat itu sudah jelas. Punya penjabaran yang “tidak terbantah”: adat berbahasa kiasan, syarak berterus terang.Tapi, pernyataan ambo tu samato2 “analisis wacana”.
Penggunaan suatu kato untuk menggambarkan apo pun, membawa “psikologi” pembuat wacana.
Dalam dua kata konotatif “basisampiang” dan “batilanjang” ada kesan psikologis cimeeh dari pembuat wacana (kaum adat), karena bagaimanapun dua kata tersebut punya kesan berbeda tingkatan. Bahwa bahasa adat punya “tingkatan” lebih beradab dibanding bahasa syarak. Itu kesan psikologis dari kata yang dipakai.

Dari analisis sarupo itu, kito manamukan banyak PERTIKAIAN dalam salapan versi transkrip Marapalam.

Ado contoh pertikaian nan bertolak belakang sacaro diametral.
Transkrip versi I: Syarak nan qawi, adat nan lazim
Transkrip versi VIII: Adat nan qawi, syarak nan lazimMamangan ini tidak dapat dipegang keduanya, yang kentara adalah pesan “saling mengungguli” antara pemegang adat dan pemegang syarak.
Perlu kelapangan hati, untuk tidak membahas lebih jauh “mana yang lebih benar”.

Kritik Naskah “Marapalam” I

Untuak babarapo dokumen barikuik ambo ingin ma-ajak Mamak jo Dunsanak baranang agak dalam. Kito samo mambaco babarapo naskah “Marapalam”. Ambo ingin kito mancubo kritis terhadap isi/substansi nan tatulih. Tulisanko sabagai lanjutan tulisan partamo “SEJARAH” BUKIK MARAPALAM.

 

Naskah/transkrip I.

Pada bulan Sya’ban tahun 804 H (Maret tahun 1403 M) Yang Dipertuan Maharaja Diraja Minangkabau Tuangku Maharajo Sakti keturunan keempat Adityawarman bersama Pamuncak adat Dt Bandaro Putiah di Sungai Tarab mengundang seluruh pemuka agama, pemuka adat dan ilmuwan umum di seluruh wilayah Dataran tinggi tiga gunung Merapi Singgalang dan Sago yang juga disebut wilayah luak nan tigo mengadakan pertemuan permusyawaratan menyatukan pendapat mengatur masyarakat di wilayah Kerajaan Minangkabau ini di atas bukit Marapalam

 

Dalam pembukaan Tuangku Maharajo Sakti menyampaikan, “sudah waktunya kita sebagai pemuka wilayah inti kerajaan Minangkabau memikirkan kesatuan dan kemajuan kerajaan Minangkabau.. Marilah kita bersama-sama memikirkan hal itu..”. Semua yang hadir bersepakat.

Tuangku Maharajo Sakti melemparkan pertanyaan mengenai pedoman apa yang dapat menjadi dasar hukum Kerajaan Minangkabau.

Dari Kelompok adat, dan dari Kaum Tua mengusulkan agar tetap berpedoman pada adat yang telah lama diterapkan, yaitu Adat basandi alua jo patuik alam takambang jadi guru..

Dari Kelompok Penguasa Militer yang kebanyakan berasal dari Jawa menyampaikan bahwa mereka mengikuti suara yang terbanyak

Dari Kelompok Umat Islam mengusulkankan agar diterapkan Adat Basandi sarak, sarak basandi kitabullah, sarak mangato adat mamakai, sarak nan kawi adat nan ladzim. Selanjutnya dari kelompok umat Islam juga mengusulkan agar sistem pemerintahan berdaulat umat (demokrasi) system tigaisme (trilogy).. Minangkabau diperintah oleh 3 (tiga) Lembaga Raja yang terhormat (Rajo Nan Tigo Selo), yaitu Limbago Rajo Alam di Pagaruyuang, Limbago (Lembaga) Rajo Ibadat di Sumpur kudus dan Limbago Rajo Adat di Buo. Masing-masing Limbago Rajo merupakan limbago Ilmuwan (tenaga ahli) dipimpin oleh seorang rajo.. Pimpinan umum disebut Sultan rajo Alam dipanggilkan Sulthan.. Tugas rajo nan tigo selo ialah menjelaskan dan menyempurnakan keputusan Marapalam.. Keputusan Marapalam dengan penyempurnaan dan penjelasannya disebut Undang Adat Minagkabau.. Selain itu rajo nan tigo selo menetapkan aturan pelaksanaan dan aturan yang belum ada dan diperlukan oleh masyarakat Minangkabau..

Sebagaimana telah diberlakukan lama, Minangkabau itu dibagi atas Minangkabau inti (al Biththah) dan Minangkabau rantau (Minangkabau az Zawahir).. Minangkabau al Biththah meliputi wilayah Dataran tiga gunung (tria arga), gunung Singgalang, gunung Marapi dan gunung Sago yang disebut Luak Nan Tigo, yaitu luak Tanah Data, Luak Agam, Luak 50 Koto.. Daerah di luar itu disebut Minangkabau rantau (az zawahir).. Di Minangkabau inti (Luak Nan Tigo) raja-raja Minangkabau tidak memerintah langsung (tidak memungut pajak), tapi hanya mengatur dan menjaga tidak ada peperangan di dalamnya.. Raja Minangkabau memerintah di rantau dengan mengirimkan perwakilan-perwakilan. Minangkabau inti menjadi pendukung Sulthan memerintah ke rantau..

Undang adat Minangkabau ditulis dalam rangkap delapan yang sama.. 3 rangkap masing-masing dipegang oleh Rajo Nan Tigo Selo, serta 4 rangkap dipegang masing-masing oleh Basa 4 balai, dan 1 rangkap dipegang oleh Tuan Gadang. Barang siapa yang ingin menyalin dapat menyalinnya dari salah satu yang delapan itu.. Dalam salinan itu disebutkan siapa yang menyalinnya dan dari undang adat yang mana dia salin.. Begitulah buku undang adat itu sampai ke nagari-nagari.

Hasil kesepakatan di bukit Marapalam tersebut disebut “Bai’ah Marapalam”.

 

BAI’AH MARAPALAM/ UNDANG ADAT MINANGKABAU

(UNDANG UNDANG DASAR (UUD) KESULTHANAN MINANGKABAU DARUL QUORAR)

Bagian pertama

Pembukaan

Pasal 1

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah..

Pasal 2.

Syara’ mangato, Adat mamakai, Syara’ nan Kawi, Adat nan ladzim.

Bagian kedua

Isi baiah

Pasal 3

1) Sumber hukum di Minangkabau ialah Al Qur’an, Hadits, Qiyas dan Ijma’..

2) Qiyas diambil dari zaman Khalifah Rasyidin..

3) Ijma’ adalah hasil kesepatan Limbago Rajo Nan Tigo Selo..

4) Ijmak pada tingkat Nagari atau dibawah Minangkabau ialah hasil kesepakatan Tungku Tigo Sajarangan..

5) Kesepakatan ditetapkan secara musyawarah, bebas, tanpa adanya “manarah malantuang batu”..

6) Semua kesepakatan, peraturan dan keuangan harus ditulis..

Kritik 1.
Tahun 1403 M bukan tahun 804 H.
Beberapa salinan transkrip ini selalu menggunakan tahun2 tersebut. Tahun 1403 M tidak berhimpitan/tidak pada saat yang sama dengan tahun 804 H.
Sangat mungkin pembuat naskah ini salah dalam menghitung mundur dari tahun naskah dibuat sampai ke tahun 1403 M.

Kritik 2
Dalam transkrip:
….Yang Dipertuan Maharaja Diraja Minangkabau Tuangku Maharajo Sakti keturunan keempat Adityawarman…

Data sejarah:
Tahun 1403 M masih periode Ananggawarman anak (keturunan pertama) Adityawarman.
Ananggawarman memerintah sampai 1417M. Belum memakai nama “Tuangku”. .

Kritik 3:
Adityawarman memerintah sampai 1375 M (dari seluruh referensi)
Penerusnya Ananggawarman memerintah sampai 1417 M (dari seluruh referensi)
Ananggawarman tidak mempunyai putra/keturunan.
Ada ketidaksesuaian data transkrip dengan data2 sejarah yang sudah “diakui” para ahli sejarah.

Masih banyak kritik yang bisa ditujukan kepada trankrip “Bai’ah Marapalam” tersebut. Tapi, hal itu tidak “signifikan” dilanjutkan.
Tahun 1403 M adalah tahun pemerintahan Ananggawarman yang sangat banyak spekulasi dan riwayat simpang-siur.
Legenda “Adu Kabau”, dan “Kaba Cindua Mato” juga di-TENGARAI terjadi pada periode tersebut.

Kesimpulan saya:
Naskah “Marapalam” ini ditulis oleh penulis dengan missi “pro-Islam” dalam perebutan pengaruh terhadap peristiwa Bukit Marapalam.
Dalam naskah ini sangat banyak kosa-kata Arab yang terlalu dipaksakan. 
Penulis memilih waktu “yang gelap” dalam sejarah Minangkabau.
Tapi banyak kejanggalan2. Terutama kosa-kata Arab yang terlalu dominan. Padahal, masa tersebut masih 300 (TIGA RATUS) TAHUN SEBELUM Syekh Burhanuddin Ulakan menyebarkan Islam. 

NASKAH2 MARAPALAM

DELAPAN VERSI masa terjadinya “PERITIWA” MARAPALAM

Ketiadaan catatan/tulisan Belanda tentang Peristiwa Marapalam, mengundang munculnya beragam versi sejumlah peneliti, pemerhati agama dan adat tentang peristiwa Bukit Marapalam. Beberapa versi antara lain dari laporan penelitian dan seminar tentang Sumpah Satie Bukik Marapalam (1991).

 

Versi I:

Bai’ah Marapalam 1403M.

Sudah dibahas dalam dokumen “KRITIK NASKAH ‘MARAPALAM” I.

 

Versi II:

Piagam Sumpah Satie Marapalam terjadi pada masa Syekh Burhanuddin menyebarkan Islam di alam Minang. Hamka (1984) secara tersirat ia memperkirakan masa Syekh Burhanuddin, masih berlaku konsensus pertama yaitu “adaik basandi syarak, syarak basandi adaik”.

Azwar Datuk Mangiang mewawancarai Inyiak Canduang ( buku “Perdamaian Adat dan Syarak”) tahun 1966 di Candung. Azwar menyatakan peristiwa itu terjadi tahun 1644 Masehi (M), jauh sebelum masa Paderi.

Awal abad ke-7 M (abad I Hijriah) rantau timur Minangkabau telah menerima dakwah Islam. J.C. van Vanleur dalam bukunya Indonesian Trade & Socety (1955) menyatakan tahun 674 AD Pantai Barat Sumatera telah dihuni koloni Arab.

Kerajaan Islam Perlak dengan sultan pertamanya Syekh Maulana Abdul Aziz Syah  yang menganut Islam Syiah (840 M-888/913 M). Namun akhirnya di Perlak juga berkembang aliran Sunni.

Perlak dipimpin oleh seorang Sunni yaitu Sultan Makhudum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan berdaulat (1006 M).

Kemudian rantau Alam Minang sudah mulai didominasi pemeluk Islam. Adityawarman masih memeluk Budha dan Dinastinya berlanjut sampai tahun 1581 M.

Jauh sebelum Paderi, tahun 1411 M raja Pagarruyung sudah memeluk Islam dan mereka berguru kepada Tuanku Syekh Magribi atau dikenal juga Syekh Ibrahi (Maulana Malik Ibrahim).

Masa itu telah terjadi penyesuaian antara Islam dengan adat setempat. L.C. Westenenk dalam Opstellen over Minangkabau menyatakana bahwa masa adaik mananti, syarak mandaki telah ada upacara ritual pada dua buah batu di Pincuran Tujuh di Batang Sinamar, Kumanih.

Kemudian datanglah Syekh Burhanuddin yang bernama asli Pono. Kesepakatan damai tercipta antara para Penghulu, Tuanku dan Alim Ulama Minang.Kesepakatan itu bertujuan untuk saling mengakui eksistensi ulama dengan penghulu, sehingga ulama bukan bawahan Penghulu seperti panungkek, manti dandubalang,

Para kaum adat dan Syekh Burhanuddin sebagai penggagas piagam sumpah satie menemui Yang Dipertan Agung Pagarruyung. Seterusnya mereka bersama Rajo nan Tigo Selo dan Basa Ampek Balai  melakukan upacara pemotongan kerbau.

Semenjak itu muncul beberapa pepatah petitih, yaitu syarak mandakiadaik manurun; syarak lazim, adaik kawi; syarak babuhue mati, adaik babuhue sintak; syarak balindueng, adaik bapaneh; syarak mangato, adaik mamakai; syarak batilanjang, adaik basisampieng. Ketika itu Pagarruyung telah diperintah oleh Sultan Ahmadsyah gelar Tuanku Rajo nan Sati yang dilewakan dengan gelar tambahan yaitu Raja Alif. Dialah raja Pagarruyung yang pertama bertugas menyebarluaskan piagam sumpah satie tersebut.

 

Versi III

Peristiwa Bukit Marapalam terjadi masa awal gerakan/perang Paderi.

Gerakan Paderi yang diilhami oleh kebangkitan Islam oleh kaum Wahabi di Tanah Suci, Arab Timur. Paham Wahabi berkembang sampai ke Minang secara radikal dan pendukungnya hendak mengembalikan kemurnian Islam secara revolusi. Mereka disebut kaum Paderi yaitu orang dari kota pelabuhan di Pidie, Aceh.

Daerah pertahanan yang strategis bagi kaum Paderi adalah puncak Bukit Marapalam. Namun mereka khawatir korban bertambah di kalangan masyarakat. Kaum Paderi menggagas perjanjian dengan kaum adat. Datuk Bandaro berinisiatif menemui Datuk Samik untuk menyetujuinya. Kesepakatan mereka dilaporkan kepada Datuk Surirajo Maharajo di Pariangan. Mereka berhasil mengeluarkan Piagam sumpah satie Bukik Marapalam yaitu ABSSBK.

 

Versi IV

Peristiwa Bukit Marapalam masa awal perang Paderi sekitar tahun 1803-1819.

Kedua pihak yang berperang sama-sama kuat. Namun kaum Paderi sering melakukan serangan mendadak ke nagari-nagari. Benteng pertahanan mereka sekitar jalan bukit Marapalam ke Lintau diparit tinggi dan melingkar. Kaum adat melirik bangsa Eropa (Belanda) untuk mendapatkan dukungan sehingga terjadi perang Paderi. Korban berjatuhan diketiga pihak yang berkepentingan. Melihat kejadian itu yang lebih menguntungkan Belanda, maka muncul kesadaran beberapa kaum adat untuk berdamai dengan ulama Paderi dan bersatu melawan Belanda. Tersebutlah Datuk Bandaro wakil golongan adat dan Tuanku Lintau sebagai tokoh yang memprakarsai perjanjian itu di Bukit Marapalam. Fakta sosial membuktikan bahwa Tuanku Lintau yang mengkonsep, mengatur, dan menjalankan ABSSBK.

 

Versi V

Peristiwa Bukit Marapalam terjadi masa vacum perang Paderi.

Kaum Paderi menganggap kaum adat dan Belanda sebagai kafir yang harus diperangi. Strategi Belanda yaitu mengalihkan pasukannya menghadapi Perang Diponegoro di Jawa, sementara Belanda pura-pura berdamai dengan kaum Paderi, namun antara ulama dengan kaum adat belum juga berdamai. Melihat strategi Belanda maka kaum Paderi juga melakukan rekonsiliasi dengan kaum adat untuk menambah kekuatan dengan sebuah perjanjian. Pelopor dari kaum adat yaitu Datuk Bandaro dan dari Paderi (sekaligus yang mampu menanamkan ajaran Islam kepada mereka) adalah Tuanku Lintau. Pertentangan mulai reja semenjak perjanjian itu, namun pertentangan masih terasa antara paradatuk dari Nagari Saruaso dan Batipuh.

 

Versi VI

Peristiwa Bukit Marapalam terjadi tahun 1828 ketika Tuanku Imam Bonjol hampir menguasai seluruh Minangkabau. Tuanku Imam Bonjol mengajukan tawaran berdamai dengan kaum adat. Tawaran berdamai itu diterima, mereka bertemu di Bukit Marapalam.

 

Versi VII

Peristiwa Bukik Marapalam masa Perang Paderi II.

Strategi perang Belanda berhasil, terbukti dengan kekalahan Diponegoro dan kemudian jatuhnya benteng pertahanan Paderi Lintau di puncak Bukit Marapalam bulan Agustus 1831. Berturut-turut jatuhlah ke tangan Belanda benteng di Talawi, Bukit Kamang dan kekuatan Tuanku Nan Renceh. Semua Paderi di Agam jatuh ke tangan Belanda akhir Juni 1832. Mereka telah terlanjur diadu domba oleh Belanda dengan adanya konflik agama dan adat. Namun sebelum Bukik Marapalam jatuh ke tangan Belanda, antara kaum adat dan agama telah berunding yang menghasilkan piagam sumpah satie tersebut. Kembali disebut-sebut Tuanku Lintau sebagai pemprakarsanya.

 

Versi VIII

Peristiwa Marapalam sesudah usai perang Paderi.

Kesadaran masyarakat adat.Setelah kekalahan Paderi, Belanda bisa menguasai Minang. Belanda mulai merubah tatanan sosial masyarakat. Mereka mengangkat Penghulu Bersurat untuk kepentingan administrasi dan untuk urusan pemungutan pajak. Nagari-nagari yang otonom di Minang mereka jadikan bagian wilayah Administratif Pemerintahan Hindia Belanda. Namun kekhawatiran masyarakat Minang terhadap Belanda yang utama adalah pandangan bahwa mereka orang kafir, sehingga ada kecemasan terjadinya perubahan struktur sosial dan nilai-nilai agama dalam masyarakat. Upaya mengantisipasi hal itu adalah memperkuat persatuan kaum adat dan ulama dengan mencetuskan piagam sumpah satie tersebut.

Adat Basandi Syarak

Adat Basandi Syarak, Baa Mamahaminyo?

Satantang sandi.

Kalau kaji dalam adat Minang, sajauah ambo baco: sandi buliah datang kudian. Marujuak kapado pambuatan rumah adat Minang (nan asli). Batu sandi dipasang sasudah tunggak jo kudo-kudo tatagak.Minangkabau lah ado sajak zaman pra-sejarah.

Jadi, walaupun Islam talambek ka Minangkabau, karano suai, dijadikan sandi adat. Nan sabalum tu, adat basandi alue jo patuik.

Maso Syekh Burhanuddin: Adat basandi syarak, syarak basandi adat.

Sasudah itu Piagam/Sumpah sati Bukik Marapalam: akomodasi adat terhadap Islam.

Minang tidak pernah tercatat “ditaklukkan” Islam.

ABS-SBK hasil pertemuan Bukik Marapalam. Diputuihkan dek masyarakat adat, bukan dek panglima perang/pemuka/ulama Islam.

Adat Minangkabau iyo bersendikan syarak, karano masyarakat adat manarimo, maanggapnyo sasuai. 

Tantang nan ma nan sasuai, jaleh kaduo balah nyo. Sasuai bukan MANYASUAIKAN. Sasuai tu bahaso adatnyo “batamu rueh jo buku”. Sandi bisa/buliah diasak/diganti. Mako sandi diasak, kalau ndak suai.

Contohnyo: Hak waris. 

Karano harato pusako tinggi bukan pancarian laki2 dan nasabnyo ka ateh, mako sandi kewarisan Islam ndak dipakai, karano harato pusako tinggi hasil pancarian/ perjuangan saudaro2 dari perempuan sarato ibu2 dan nenek2 mareka.

Sandi rumah adat Minang punyo kelebihan dari pondasi. Kalau sandi indak malakek kaku/rigid ka bumi; indak pulo malakek ka tunggak. Luwes ka ateh ka bawah.Hal iko sasuai jo alam Minangkabau nan sapanjang zaman dihoyak gampo. Katiko gampo datang, sandi barayun, rumah manari.Kalau pondasi, kaku malakek ka bumi, lakek ka tunggak.Kalau tibo gampo, baradu kuaik. Kalau pondasi kuaik, tunggak kuaik,dindiang kuaik: aman.Ciek sajo ndak kuaik, apolai gampo di ateh 7 SR, pasti rarak.

Ma nan labiah tinggi adat jo ajaran Islam.

Manuruik ambo: indak ado nan tinggi jo randah, kuat jo lamah, karano kaduo nyo dari Allah.

Kalau Islam c.q. Al-Qur’an diturunkan sabagai wahyu malalui Rasulullah. Nan adat sabagai buah budi jo daya manusia Minangkabau, “diturunkan” Allah sabagai ‘irhas’, ‘ilham’ nan lah bakulindan salamo ribuan tahun.

Kalau kito pakai adagium “ayat”, mako ajaran Islam adolah ayat qur’aniyah (nan tatulih), mako adat Alam Takambang Jadi Guru adolah ayat “qauniyah”.Manuruik ambo, ayat-ayat qur’aniyah diturunkan Allah kapado nabi-nabi dan rasul-rasul-Nyo.

Ayat-ayat qauniyah diturunkan Allah kapado saluruah umat manusia ciptaan-Nyo. 

Karano ayat-ayat qauniyah diturunkan sarantak jo alam, mako irhas dan ilham diturunkan pulo ka saluruah manusia pilihan-Nyo, pamimpin2/urang2 cadiak pandai, nan bukan nabi atau rasul.

Adat nan “diturunkan” Allah ka urang Minang labiah daulu dipakai. Mako ado sabagian hasil budi daya tu babeda jo budi daya nan tumbuah sakitar wilayah tampek turun ayat nan tatulih, di Makah/Madinah. Karano situasi, kaadaan, maso nan babeda.

Budi daya nan lah tagak, paralu diagiah landasan, di siko sandi paralu.

Jadi, nan dicarikan/diagiah sandi tu, adolah tunggak jo kudo2 nan lah tagak (adat istiadat nan lah dipakai).Ma nyo contoh budi daya nan babeda: bahaso, caro bapikia, hubungan/interaksi antar manusia, kekerabatan, sandang, pangan, papan, dan sagalo urusan satantang itu.

Tantang ilham jo irhas,

Banyak referensi nan bisa dibukak. Sakadarnyo sajo: nan irhas dan ilham barkaitan jo hal kautamaan/nan baiak2, datangnyo dari Allah ka hati ketek manusia. Mako mustahil ilham jo irhas batantangan jo wahyu. Kalau batantangan, itu bukan ilham/irhas, hanyo buah pikiran.

Ilham jo irhas ko eksis dalam bantuak pituah/patunjuak/rambu2 dari pemimpin/tokoh/niniak muyang.

Samaso adat basandi alua jo patuik, lah ado pituah nan bapakai, sarupo: malu jo sopan. Katiko bahaso Minang sabagai hasil budi daya bakambang, mako bahaso diagiah sandi malu jo sopan, tagaklah budaya Kato Nan Ampek di ateh sandi Alua jo Patuik, Malu jo Sopan.

Katiko datang Islam jo ayat tatulih Qur’an, batamu lah sandi nan sasuai: qaulan karima, qaulan ma’rufa.

Tantang ABS-SBK nan dipakai di Riau, Jambi dan lainnya.

1. Ambo juo mandapek-i banyak budaya Muslim bangso-puak-masyarakat lain nan mamakai hal nan samo. Mungkin dunsanak labiah tahu, misalnyo di Riau, Jambi, bahkan di Gorontalo. Ambo yakin masih banyak nan lain.

Karano itu ambo bapandapek: proses peletakan sandi nan tajadi di berbagai masyarakat itu samo. Bahkan ambo bapandapek: sabagian besar falsafah/pituah/ sandi2 adat nan bakambang di Nusantara ko banyak nan samo. 

2. ABS-SBK adolah tafsir ilham jo irhas nan ditarimo niniak moyang. ABS-SBK bukan irhas jo ilham itu 100%, bukan pulo 100% kreasi/ciptaan niniak muyang. Peran tokoh/pamimpin masyarakat hadir pado penafsiran tu. 

3. Manuruik ambo, irhas jo ilham nan diturunkan Allah sajak samulo, indak turun eksklusif kapado satu duo pamimpin/tokoh masyarakat. Irhas dan ilham tu turun sajalan jo alam, sampai nyo ka banyak pamimpin/tokoh di banyak kelompok/masyarakat. Allah manurunkan ilham dan ilham sabagai “manual”/”buku” pedoman pemakaian satiok ciptaan-Nyo, untuk berinteraksi jo satiok ciptaan-Nyo.

Manuruik ambo: Fungsi ilham jo irhas samo jo wahyu: “untuk padoman baa hiduik nan elok”. Karano maso tulih-baco alun mamungkinkan, Allah manurunkan irhas jo ilham ka banyak tokoh di banyak masyarakaik.

Katiko maso wahyu, turun eksklusif ka nabi jo rasul, untuak ditulih-dibaco.

4. Untuak alam nan hampia samo kaadaannyo, ilham jo irhas nan ditarimo pamimpin tantu samo. Mako lahia lah pituah/falsafah/ pedoman nan samo bunyi-nyo. Kaadaan iko lah nan manyababkan ABS-SBK nan mirip muncul di berbagai masyarakat Nusantara.Samo, karano Allah turunkan sacaro simultan ka tokoh/pamimpin di alam/masyarakat nyo punyo kasama-an.

5. Pado tataran irhas jo ilham itu samo. Tapi pado tataran penafsiran/ penerjemahan dan implementasi: budaya, tantu tajadi variasi. Samo hal nyo Al-Qur’an jo tafsir nan baragam. 

6. Tantangan ABS-SBK di Minangkabau, manuruik ambo asli tafsiran niniak muyang urang Minangkabau tarhadap irhas jo ilham nan mareka tarimo. Baitu juo ABS-SBK di Riau, Jambi, Gorontalo, asli tafsiran niniak muyang masiang-masiang tarhadap irhas jo ilham nan mareka tarimo.

7. Satantang parubahan, tantu iyo. Interaksi antar masyarakaik, diaspora, tantu manyababkan tafsir tu saliang mampangaruahi.

8. Satantang Adat jo Syarak batikai, manuruik ambo duo-duonyo harus barundiang duduak sameja. Sabalumnyo ambo tambahkan: Syarakpun adolah tafsir terhadap wahyu, sabagaimano adat tafsir tarhadap irhas jo ilham. Kalau ilham jo irhas batikai jo wahyu, mako itu bukan ilham jo irhas. Veto nyo langsung, indak ado rundiangan. 

9. Kalau bertikai Syarak dan Adat, tegakkan Syarak, itu ABS-SBK di Riau. Di Minang tidak dinyatakan begitu.

10. Tentang syarak mandaki, adat menurun: ini menyangkut perjalanan/penyebarannya di tanah/wilayah Minang. Syarak mendaki dari Siak/Riau dan/atau dari Pariaman/Ulakan. Adat menurun dari Darek ke pesisir.

11. Syarak mangato adat mamakai: pedoman pada upacara terkait agama, seperti pernikahan. Apa upacara yang diperintah agama dilaksanakan, tapi walimah/perhelatan/pakainnya diatur adat. 

12. Mengenai Syarak batilanjang, Adat basisampiang: itu bahasa kias. Batilanjang disini terus-terang, buka-bukaan, seperti mengaji fiqh-munaqahat. Basisampiang, menggunakan bahasa kiasan/lambang/ konotasi/ ibarat, tidak luruih tabuang. Coba sanak baca semua peribahasa/pituah adat, semua pakai ibarat.

Apokoh Posisi Syarak labiah tinggi dari adat?

1. Ambo satuju kalau syarak disiko dimaknai sabagai wahyu. Dalam hal iko suai jo pandapek ambo tarakhir: kalau irhas/ilham batikai jo wahyu, mako itu bukan irhas/ilham. Kabiasaan nan tumbuah dari ilham samacam itu langsuang bukan adat.

Contoh: kabiasaan mananam kapalo kabau untuk mamuloi mambangun.

Mungkin dulu iko muncul dari “ilham” tertentu untuk persembahan. Ilham tentang persembahan sarupo itu bertentangan jo wahyu. Haram manuruik syarak.

Mako jatuah posisi ilham “persembahan” dalam bantuak apopun. Itu bukan adat.

2. Kalau syarak dalam pemahaman nan lain: aturan fiqh hasil penafsiran mufassir dan fuqaha terhadap wahyu.

Katiko aturan tu batikai jo adat, mako kito baliak ka wahyu sebagai sumber syarak, dan mangkaji sumber munculnyo adat.

Contoh: Nan paliang “hot” hak waris untuak cucu padusi dari anak padusi. Debat panjang ko diangkek dek Prof. Amir Syarifuddin. Ulama fiqh kito. Manuruik baliau, kalau surang laki-laki diurus di rumah anak padusi nyo, diagiah makan-minum dirawat cucu padusi nyo, sarupo biaso di Minangkabau. Mako hak waris cucu laki-laki harus hapus, diganti jadi hak waris cucu padusi dari anak padusi.Baliau antaro lain managakkan tu malalui ayat “adil”, bukan ayat “waris”. Disiko syarak dikaji ulang.

Apokoh syarak samo jo wahyu?

Mungkin manjadi sabab parbedaan pandapek manganai posisi adat jo syarak.Katiko syarak dipandang samo wahyu, mako pandapek ulama manjadi mutlak. Katiko ulama mangatokan sasuatu “haram” mako itu manjadi haram.

Patikaian Kaum Tua vs Kaum Muda banyak tajadi dalam hal iko.Contoh nan populer katiko Inyiak Jambek (Kaum Muda) mamakai sarawa pantalon. Tajadi polemik.

Manuruik kaum tua: Pantalon tu pakaian Ulando, pakaian urang kapia. Maniru urang kapia, haram.

Inyiak Jambek: “Jubah tu samo jo pakaian Abu Jahal, nan pakai jubah maniru Abu Jahal.” 

Di siko parintah wahyu batua: haram maniru urang kapia.

Tapi syarak (aturan hasil tafsiran ulama) perlu dikaji ulang. Apa memakai jubah, memakai pantalon itu yang dimaksud ayat.

Tantang syarak nan ditatapkan ulama ado 4 dasarnyo:

1. Al-Qur’an

2. Sunnah

3. Ijma’

4. Qiyas.

Al-Qur’an ditarimo di Minangkabau sabagai wahyu nan mutlak.

Sunnah atau Hadist baragam tingkatannya.

Katiko syarak nan ditatapkan manggunokan hadis shahih mutawatir, umumnyo indak tajadi parbedaan.Katiko tingkatan hadis hasan atau ahad, banyak tajadi khilafiyah.Tantang “Bismillah” dikarehkan/jahar, atau indak dibaco,… sampai abaik 21 ko masih babeda-beda pandapek ulama. Ka pakai qunut atau indak. Tarawih 8 atau 20 rakaat. dll.

Katiko Ijma’ jo Qiyas dipakai, tajadi mazhab-mazhab. Kato mazhab Syafii, koncek/katak haram. Kato mazhab Hanafi halal. Syarak sabana baragam kalau lah sampai di tingkek ko.

Contoh “hot” tarakhir:”Alkohol haram. Mako tapai haram, alkoholnyo 30%.”Pernyataan haram (Syarak) nan iko adolah hasil pamikiran ulama kito juo. 

Manuruik ambo, syarak paralu dilatakkan sabagai hal nan tatap mambukak pintu perbedaan pandapek. Ijtihad paralu taruih dilakukan para ulama, supayo syarak tatap aktual.Karano banyak nan harus dibari sandi syarak di zaman modern ko.Baa tantang bank, bursa efek, asuransi, jua bali di dunia maya, dll. Budaya nan taruih tumbuah. Syarak harus mambari jaweknyo.

Wallahu’alam.

oleh Tuangku Mangkudun