Kelahiran Tambo

Bagaimana Tambo Lanir..?

Masyarakat Minangkabau ditakdirkan hidup di atas wilayah “ring of fire”, pusat2 pergeseran lempeng kulit bumi yang membuahkan gempa2 dahsyat.

Ada masa ketika nenek-moyang orang Minang “berusaha” meninggalkan jejak sejarah, seperti ratusan menhir di Mahat, sampai beberapa situs batu-batu zaman megalitikum, juga candi-candi.

Tapi perjalanan waktu di tengah gempuran2 alam, terutama gempa, mengikis kebiasaan2 tersebut, karena bangunan apapun di atas wilayah ini akan rapun dilanyau gempa.

Allah, melalui ilham dan irhas-Nya memberikan petunjuk agar berguru kepada alam. Ilham dan irhas tersebut diberi rangka oleh orang Minang dengan “Alam Takambang Jadi Guru.” Insya-Allah ini hak paten nenek moyang orang Minangkabau.

Sebuah petuah/pedoman, yang setelah masa Islam datang dikuatkan oleh wahyu tertulis, Al-Qur’an. Antara lain dalam surat Ali Imran ayat 190: ….”“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,……”

Berdasarkan petuah itulah orang Minang dahulu menghasilkan petuah2 lainnya yang diajarkan Allah melalui ayat qauniyah-Nya, alam.

Keinginan meninggalkan “jejak” yang kemudian menjadi sejarah, merupakan ilham dan irhas yang diberikan Allah kepada seluruh manusia. Orang Minang dahulu telah melihat tidak ada yang bertahan menghadapi gempuran dahsyat alam “Pulau Paco“, pulau perca, pecahan2/potongan2. Tidak ada “jejak” yang akan bertahan.

Harus ada sesuatu yang “Indak Lakang dek Paneh, Indak Lapuak dek Hujan” untuk diwariskan kepada anak cucu. Apakah sesuatu yang dapat bertahan seperti itu?

Alam menunjukkan:  Nan Indak Lakang dek Paneh, Indak Lapuak dek Hujan itu hanyalah “kato“.

“Kato”, kata-kata lisan, bukan tulisan, di atas batu sekalipun.

Nenek moyang orang Minangkabau memilih cara “kato” untuk meninggalkan “jejak”.

Kata2 lisan tersebut HARUS menyebar ke seluruh orang Minang. Menyebar dan terekam dalam pikiran, keseharian, angan-angan, bahkan mimpi-mimpi mereka.

Kata2 itu harus terpahat/terpatri di hati, maka harus indah, lahirlah petatah/petitih.

Petatah/petitih harus tersebar, diperlukan wadah untuk menyebarkannya.

Orang Minang menciptakan berbagai arena untuk menyebarkan kata-kata “jejak” tersebut.

Arena itu sebagian besar masih ada bahkan berkembang sampai sekarang.

Tradisi lisan tu balansuang dalam babarapo kagiatan atau wadah budaya:

1. Tradisi kaba, bakaba, sarato sagalo variasinyo, sarupo sijobang, dendang, rabab, salawat

dulang, dll.

2. Tradisi pasambahan, panitahan, pidato adat, sarato sagalo variasinyo, nan taruih bajalan

sapanjang zaman pado satiok upacara adat.

3. Tradisi maota di lapau nan masih balansuang;

4. Tradisi surau nan muloi pupuih. (Tapi Allah Maha Kaya, Surau “dipindahkan-Nya kesini)

Tambo adalah “jejak” yang ditinggalkan oleh nenek moyang orang Minangkabau, dalam bentuk pepatah/petitih, prosa liris yang pernah mampir pada pendengaran dan ingatan sebagian besar orang Minang.

Jejak sejarah itu insya-Allah pernah mampir di 98% orang Minang, bukan hanya pada 2%. Wallahu’alam bis shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s