Tambo Bukan Sejarah

Tambo itu “Jejak”,

Angka 98% masih kurang, masih pesimistis. Mungkin 99,9% orang Minang sepanjang zaman telah tersentuh oleh Tambo. Sejauh apapun seorang Minang dari “Ranah Bundo”, insya-Allah dia pernah “tersentuh Tambo.

Pengaruh empat jenis wadah penyebaran Tambo menyebabkan siapapun orang Minang pernah merekam bagian2 tertentu dalam ingatannya. Salah satu (kalau tidak keempat) wadah tersebut pasti pernah meninggalkan jejak dalam ingatan orang Minang.

Seorang Minang tentu pernah mendengar salah satunya, kaba, carito, pepatah-petitih, pituah, mamang, pantun atau kosa kata dari Tambo; di mana pun dia lahir atau dibesarkan. Di rantau sejauh apa pun, tentu ada “jejak” Tambo dalam ingatannya, walau hanya sepotong kecil petuah, atau sebuah nama, seperti: raso pareso, alua jo patuik, malu jo sopan, nan baiak budi, nan indah baso, bundo kanduang, pangulu, niniak mamak, cadiak pandai …. dll.

Tambo, atau apapun istilah untuk petuah/pedoman/undang2 adat Minangkabau tersebut dapat dinyatakan eksis dan nyata terekam dalam ingatan setiap orang Minangkabau, dimanapun, dalam keadaan apapun.

Saya melihat hal luar biasa ketika Landrat Syasli dan Yus Ta Nur membuka halaman/thread di Palanta Urang Awak Minangkabau, tentang: Pituah dan ungkapan nasehat di Minang kabau. Dalam waktu singkat thread tersebut dikomentari oleh puluhan anggota. Berhari-hari halaman tersebut jadi halaman favorit. Sangat panjang dan sangat kaya dengan “simpanan” ingatan orang Minang terhadap petuah dan ungkapan nasehat.

Sebenarnya thread itu tanggapan terhadap keberatan anggota Pangeran Paderi terhadap thread sebelumnya yang tidak kalah luar biasa. Rekaman terhadap “kato”, kata-kata yang menggambarkan perilaku orang Minang. Rekaman ingatan dari puluhan anggota dengan judul: Istilah istilah yang dipakai untuk mengungkapkan perilaku buruk seseorang yang biasa dipakai di Minangkabau.

Inilah jejak itu. Inilah artefak luarbiasa yang menjadi “bangunan” Indak Lakang dek Paneh, Indak Lapuak dek Hujan. Inilah buah dari breeding ground, ladang persemaian yang empat: kaba-pasambahan-surau-lapau, dengan segala variasinya.

“Bangunan” Tambo menyebar dalam berbagai ukuran pada seluruh orang Minang, sepanjang zaman. Inilah “jejak” sejarah yang jarang dicari bandingannya. Mungkin hanya kalah dibanding hafalan para hafidz dan hafidzah terhadap bacaan mulia Al-Qur’anulkarim. Kalah karena sumbernya lebih rendah dari Al-Qur’an.

Mungkin seluruh orang Minang adalah “pengingat”, “penghafal” Tambo atau bagian/paco2 Tambo, dalam berbagai variasi kualitas dan kuantitas. Adalah sebuah kebanggaan bagi seorang Minang, ketika dia mampu menyampaikan sepatah-dua patah kata, ungkapan, dari Tambo. Sesederhana apapun, benar atau salah, dia akan menyatakan dengan rasa bangga. Tiap orang Minang dengan bangga akan mengutip sepotong “kata bertuah” itu, seolah berkata: “Ini artefak sejarah dari leluhur saya. Ini bukti saya memperoleh warisan dari Minangkabau.” Tambo, atau apapun tentang petuah adat, termasuk riwayat nenek moyang orang Minang, adalah “jejak”, adalah “artefak”, peninggalan sejarah, sebagaimana Piramid, Sphink, Borobudur atau Prambanan.

Inilah “bangunan purbakala” yang sepanjang masa direnovasi, selalu dipakai, diulang, diucapkan, dikomentari oleh jutaan orang. “Bangunan” yang punya duplikat paling banyak, karena dibangun di atas “memory board” ingatan jutaan manusia.

Jejak sejarah, bukan sejarah. Tambo akan salah, jika dipahami sebagai sejarah. Jejak/artefak sejarah harus dibaca oleh ahlinya, arkeolog. Dibutuhkan ahli-ahli untuk “membaca” artefak itu.

Dibutuhkan ahli-ahli membaca Tambo!

Perlu ahli yang setara dengan mufassir untuk memahami Al-Qur’an. Bahkah kerjanya jauh lebih rumit. Karena artefak itu masih berserakan dalam ingatan orang Minang seluruh dunia. Belum terangkum sesempurna Al-Qur’an.

Kalau dibaca oleh orang awam, sangat berpeluang keliru, salah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s