Tentang “Abu di Ateh Tunggua”

Periode “Abu di Ateh Tunggua”

Abu Bukan Debu 

Karena seluruh isi Tambo disandarkan kepada alam, maka pertanyaan terhadap sebuah pernyataan Tambo harus dikembalikan kepada alam. Peristiwa apa, situasi apa, benda apa, keadaan bagaimana pada alam yang mengajarkan “pernyataan” itu.

Analisis saya mulai dengan frasa “abu di ateh tunggua”. Masa/periode yang mempunyai contoh konkret “abu” dan “tunggua” adalah masa kehidupan orang Minang malaco/manaruko, kegiatan membuka hutan, lahan baru untuk dijadikan “taratak”, pemukiman-pemukiman generasi pertama, bentuk awal sebelum koto dan nagari.

Ketika itu, sekeliling rumah mereka bertebaran tunggua (tunggul) kayu sisa pembukaan/ penebangan hutan. Hanya pada periode ini yang memungkinkan adanya adagium: abu di ateh tunggua.

Abu, adalah sisa-sisa pembakaran. Tunggua adalah sisa pangkal pohon yang tertinggal di tanah. Tidak ada periode lain yang memungkinkan orang Minang menggunakan kata “abu” dan “tunggua”, kecuali periode ini. Pada periode koto dan nagari, mungkin tunggua masih ada. Tapi, abu, mungkin tidak ada lagi.

Pada periode kehidupan di taratak ini, susunan kekerabatan masih sangat sederhana. Hanya satu-dua laki, satu-dua perempuan saudaranya. Agar saudara perempuannya memperoleh suami, si laki-laki “manjapuik” sumando ke taratak tetangga. Kata manjapuik disini lebih tepat, karena pertemuan laki-laki dengan perempuan untuk “saling-kenal-mengenal” sangat tidak memungkinkan. Maka penilaian sesuai tidaknya calon sumando dengan saudara perempuannya, sepenuhnya dilakukan oleh nan manjapuik.

Kalau saudara perempuannya lebih dari satu, dia harus: manjapuik sumando ke berbagai taratak tetangga mereka. Jika ada empat taratak yang berdekatan, maka satu orang laki-laki berpeluang jadi sumando di tiga taratak tetangganya. Poligami jadi kebutuhan kaum di tiap taratak, agar saudara perempuan mereka bersuami. Sangat biasa, seorang laki-laki di rumah saudaranya jadi mamak rumah; sumandonya juga mamak rumah bagi dia di taratak istrinya. Keadaan ini bahkan berlangsung sampai saat sekarang. Contoh:

  1. Amir Tanjung sebagai mamak rumah, mempunyai sumando Bahar Koto ; ini keadaan di suku Tanjung. Amir menjadi sumando, memperistri saudara se suku Bahar: Pada suku Koto.
  2. Seseorang yang pulang ke bako, memperistri kemenakan bapaknya, mengalami hal yang sama: Di rumah istrinya, dia sumando bapaknya, si bapak “mamak” baginya. Di rumah ibunya, dia “mamak rumah” bagi bapaknya, bapaknya menjadi sumando.

Kehidupan di taratak tidak lama, karena malaco/manaruko, mencari waliayah baru, berlangsung terus. Taratak dihuni untuk satu kali panen padi, sekitar 4 sampai 6 bulan.

Satu kaum yang sudah panen, akan melanjutkan manaruko ke rimba yang lain, yang jauh dari taratak pertama. Akan terjadi dua jenis perceraian pada masa meninggalkan taratak.

1. Seorang laki-laki pada “kaum yang meninggalkan taratak” akan meninggalkan juga istri (istri-istri)nya di taratak tetangga. Sangat mungkin dia hanya meninggalkan satu anak, atau istri yang masih hamil.

2. Seorang perempuan pada “kaum yang meninggalkan taratak” akan meninggalkan juga suaminya di taratak tetangga. Sangat mungkin dia hanya membawa satu anak, atau sedang hamil.

Apa dan bagaimana “abu di ateh tunggua” ?

Selama ini yang dikatakan abu adalah “debu” yang beterbangan di udara, lalu “hinggap” atau menempel di tunggua. Pemahaman tersebut perlu dikoreksi, karena “debu yang beterbangan” tidak benda umum yang ada di sekitar taratak.

Abu adalah bagian tunggua yang dibakar. Bagian yang sedang terbakar disebut “baro”. Ada baro yang masih menyala, ada baro yang tidak lagi menyala. Baro yang tidak menyala lagi, kalau dibakar masih dapat menimbulkan api. Baro adalah bagian tunggua yang dibakar, tapi pembakarannya belum selesai. Baro tunggua, atau baro kayu masih melekat di tunggua. Baro tidak mudah terlepas dari tunggua. Baro biasanya berwarna merah jika masih berapi/menyala, hitam kalau tidak berapi lagi. Orang Minang menyebut “baro” sebagai perlambang hitam.

Abu adalah sisa pembakaran yang sudah selesai. Abu tidak bisa dibakar lagi. Warnanya abu-abu, tidak hitam. Contohnya masa sekarang adalah “abu gosok”, untuk pencuci piring, yang dihasilkan dari pembakaran jerami. Abu gosok adalah abu sebenarnya, bukan debu yang beterbangan di udara.

Abu sisa pembakaran tunggua, masih berada di ateh tunggua. Tapi keadaannya sangat labil. Biasanya adagium “abu di ateh tunggua” ditambah dengan: “tabang diambuih angin sadarok, anyuik dek rinai nan salincam.” Begitu labilnya, hanya angin sepoi-sepoi bisa menerbangkannya, hanya rinai selintas bisa menghanyutkannya.

Tunggua kayu sekitar taratak masih bertebaran. Tunggua yang dibakar meninggalkan baro dan abu di atas tunggua. Ketika panen selesai, kaum pergi malaco/manaruko ke tempat lain. Perceraian2 setelah panen ini terjadi sekitar taratak. Taratak yang dikelilingi tunggua. Tunggua yang dibakar, ada baro di atasnya. Mungkin abu-nya sudah diterbangkan angin, atau dikikis hujan.

Kalau si istri di taratak yang tetangga yang ditinggalkan, datang menjenguk mintuonya, kaum suaminya, dia hanya menemui tunggua-tunggua yang tidak lagi ber-abu. Kemana suaminya? Laki-laki itu sudah diterbangkan angin, sudah dihanyutkan air: seperti abu di ateh tunggua.

Inilah keadaan atau peristiwa alam yang paling logis untuk menjelaskan adagium “abu di ateh tunggua”.

****

Abu di ateh tunggua bukan sebuah pedoman adat. Ini hanya gambaran keadaan, gambaran situasi hubungan laki-laki dengan istrinya. Keadaan yang hanya paling tepat dipakai pada periode “taratak”, periode malaco/manaruko. Periode perladangan berpindah. Periode perkawinan “sa umua jaguang”.

Seperti peristiwa kawin kontrak masa sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s