Kritik Naskah “Marapalam” I

Untuak babarapo dokumen barikuik ambo ingin ma-ajak Mamak jo Dunsanak baranang agak dalam. Kito samo mambaco babarapo naskah “Marapalam”. Ambo ingin kito mancubo kritis terhadap isi/substansi nan tatulih. Tulisanko sabagai lanjutan tulisan partamo “SEJARAH” BUKIK MARAPALAM.

 

Naskah/transkrip I.

Pada bulan Sya’ban tahun 804 H (Maret tahun 1403 M) Yang Dipertuan Maharaja Diraja Minangkabau Tuangku Maharajo Sakti keturunan keempat Adityawarman bersama Pamuncak adat Dt Bandaro Putiah di Sungai Tarab mengundang seluruh pemuka agama, pemuka adat dan ilmuwan umum di seluruh wilayah Dataran tinggi tiga gunung Merapi Singgalang dan Sago yang juga disebut wilayah luak nan tigo mengadakan pertemuan permusyawaratan menyatukan pendapat mengatur masyarakat di wilayah Kerajaan Minangkabau ini di atas bukit Marapalam

 

Dalam pembukaan Tuangku Maharajo Sakti menyampaikan, “sudah waktunya kita sebagai pemuka wilayah inti kerajaan Minangkabau memikirkan kesatuan dan kemajuan kerajaan Minangkabau.. Marilah kita bersama-sama memikirkan hal itu..”. Semua yang hadir bersepakat.

Tuangku Maharajo Sakti melemparkan pertanyaan mengenai pedoman apa yang dapat menjadi dasar hukum Kerajaan Minangkabau.

Dari Kelompok adat, dan dari Kaum Tua mengusulkan agar tetap berpedoman pada adat yang telah lama diterapkan, yaitu Adat basandi alua jo patuik alam takambang jadi guru..

Dari Kelompok Penguasa Militer yang kebanyakan berasal dari Jawa menyampaikan bahwa mereka mengikuti suara yang terbanyak

Dari Kelompok Umat Islam mengusulkankan agar diterapkan Adat Basandi sarak, sarak basandi kitabullah, sarak mangato adat mamakai, sarak nan kawi adat nan ladzim. Selanjutnya dari kelompok umat Islam juga mengusulkan agar sistem pemerintahan berdaulat umat (demokrasi) system tigaisme (trilogy).. Minangkabau diperintah oleh 3 (tiga) Lembaga Raja yang terhormat (Rajo Nan Tigo Selo), yaitu Limbago Rajo Alam di Pagaruyuang, Limbago (Lembaga) Rajo Ibadat di Sumpur kudus dan Limbago Rajo Adat di Buo. Masing-masing Limbago Rajo merupakan limbago Ilmuwan (tenaga ahli) dipimpin oleh seorang rajo.. Pimpinan umum disebut Sultan rajo Alam dipanggilkan Sulthan.. Tugas rajo nan tigo selo ialah menjelaskan dan menyempurnakan keputusan Marapalam.. Keputusan Marapalam dengan penyempurnaan dan penjelasannya disebut Undang Adat Minagkabau.. Selain itu rajo nan tigo selo menetapkan aturan pelaksanaan dan aturan yang belum ada dan diperlukan oleh masyarakat Minangkabau..

Sebagaimana telah diberlakukan lama, Minangkabau itu dibagi atas Minangkabau inti (al Biththah) dan Minangkabau rantau (Minangkabau az Zawahir).. Minangkabau al Biththah meliputi wilayah Dataran tiga gunung (tria arga), gunung Singgalang, gunung Marapi dan gunung Sago yang disebut Luak Nan Tigo, yaitu luak Tanah Data, Luak Agam, Luak 50 Koto.. Daerah di luar itu disebut Minangkabau rantau (az zawahir).. Di Minangkabau inti (Luak Nan Tigo) raja-raja Minangkabau tidak memerintah langsung (tidak memungut pajak), tapi hanya mengatur dan menjaga tidak ada peperangan di dalamnya.. Raja Minangkabau memerintah di rantau dengan mengirimkan perwakilan-perwakilan. Minangkabau inti menjadi pendukung Sulthan memerintah ke rantau..

Undang adat Minangkabau ditulis dalam rangkap delapan yang sama.. 3 rangkap masing-masing dipegang oleh Rajo Nan Tigo Selo, serta 4 rangkap dipegang masing-masing oleh Basa 4 balai, dan 1 rangkap dipegang oleh Tuan Gadang. Barang siapa yang ingin menyalin dapat menyalinnya dari salah satu yang delapan itu.. Dalam salinan itu disebutkan siapa yang menyalinnya dan dari undang adat yang mana dia salin.. Begitulah buku undang adat itu sampai ke nagari-nagari.

Hasil kesepakatan di bukit Marapalam tersebut disebut “Bai’ah Marapalam”.

 

BAI’AH MARAPALAM/ UNDANG ADAT MINANGKABAU

(UNDANG UNDANG DASAR (UUD) KESULTHANAN MINANGKABAU DARUL QUORAR)

Bagian pertama

Pembukaan

Pasal 1

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah..

Pasal 2.

Syara’ mangato, Adat mamakai, Syara’ nan Kawi, Adat nan ladzim.

Bagian kedua

Isi baiah

Pasal 3

1) Sumber hukum di Minangkabau ialah Al Qur’an, Hadits, Qiyas dan Ijma’..

2) Qiyas diambil dari zaman Khalifah Rasyidin..

3) Ijma’ adalah hasil kesepatan Limbago Rajo Nan Tigo Selo..

4) Ijmak pada tingkat Nagari atau dibawah Minangkabau ialah hasil kesepakatan Tungku Tigo Sajarangan..

5) Kesepakatan ditetapkan secara musyawarah, bebas, tanpa adanya “manarah malantuang batu”..

6) Semua kesepakatan, peraturan dan keuangan harus ditulis..

Kritik 1.
Tahun 1403 M bukan tahun 804 H.
Beberapa salinan transkrip ini selalu menggunakan tahun2 tersebut. Tahun 1403 M tidak berhimpitan/tidak pada saat yang sama dengan tahun 804 H.
Sangat mungkin pembuat naskah ini salah dalam menghitung mundur dari tahun naskah dibuat sampai ke tahun 1403 M.

Kritik 2
Dalam transkrip:
….Yang Dipertuan Maharaja Diraja Minangkabau Tuangku Maharajo Sakti keturunan keempat Adityawarman…

Data sejarah:
Tahun 1403 M masih periode Ananggawarman anak (keturunan pertama) Adityawarman.
Ananggawarman memerintah sampai 1417M. Belum memakai nama “Tuangku”. .

Kritik 3:
Adityawarman memerintah sampai 1375 M (dari seluruh referensi)
Penerusnya Ananggawarman memerintah sampai 1417 M (dari seluruh referensi)
Ananggawarman tidak mempunyai putra/keturunan.
Ada ketidaksesuaian data transkrip dengan data2 sejarah yang sudah “diakui” para ahli sejarah.

Masih banyak kritik yang bisa ditujukan kepada trankrip “Bai’ah Marapalam” tersebut. Tapi, hal itu tidak “signifikan” dilanjutkan.
Tahun 1403 M adalah tahun pemerintahan Ananggawarman yang sangat banyak spekulasi dan riwayat simpang-siur.
Legenda “Adu Kabau”, dan “Kaba Cindua Mato” juga di-TENGARAI terjadi pada periode tersebut.

Kesimpulan saya:
Naskah “Marapalam” ini ditulis oleh penulis dengan missi “pro-Islam” dalam perebutan pengaruh terhadap peristiwa Bukit Marapalam.
Dalam naskah ini sangat banyak kosa-kata Arab yang terlalu dipaksakan. 
Penulis memilih waktu “yang gelap” dalam sejarah Minangkabau.
Tapi banyak kejanggalan2. Terutama kosa-kata Arab yang terlalu dominan. Padahal, masa tersebut masih 300 (TIGA RATUS) TAHUN SEBELUM Syekh Burhanuddin Ulakan menyebarkan Islam. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s